Idealis vs. Realis: Milenial Harus Jadi Yang Mana?

Dalam beberapa kasus, Youngvestors tentu sudah tak asing dengan pertanyaan ‘kamu tipe orang yang idealis atau realis?’. Sedangkan di kesempatan lainnya, kamu mungkin menemukan orang lain menyindir pelan dengan ungkapan ‘idealisme-mu baiknya turunkan sedikit’ atau ‘makanya jadi orang yang realistis saja!’.

Namun apakah sejatinya yang menjadi pembeda antara idealis dan realis tersebut? Apakah batas yang mendasari keduanya? Dan bagaimana kedua hal tersebut mampu mengubah nasib individu dalam meniti karier?

Idealis dan realis sejatinya mengambil sudut pandang berbeda dalam melihat cara kerja dunia. Individu dengan pemikiran idealis akan memandang dunia sebagai sebuah wadah ‘seharusnya’, dimana segala sesuatu hal harus berjalan sesuai porsi dan tempatnya. Idealis akan cenderung lebih berpegang teguh pada teori dibandingkan praktis. Sebaliknya, realis memandang dunia sebagai suatu hal yang apa adanya, apa yang terlihat. Jika idealis berfokus pada teori yang diyakini sebagai hal yang seharusnya dicapai, realis cenderung menjalankan peran sebagai ‘penerima’ dan melihat fakta sebagai bentuk kebenaran.

Sumber: www.pinterest.com

Jika membahas mengenai batas antara keduanya, Youngvestors tentu akan setuju jika batas yang dibentuk merupakan sebuah batas buram yang cukup membingungkan. Pada dasarnya, ketika Youngvestors masih berpegang teguh pada cara teori memandang dunia, disitulah Youngvestors berada pada titik idealis. Di sisi lain, bukan tidak mungkin bagi individu untuk berpindah dari idealis ke realis dalam waktu tertentu. Youngvestors tentu tiba-tiba saja berubah arus dan memandang dunia dari kacamata fakta yang terlihat di depan mata. Hal tersebut bukanlah hal aneh yang langka, namun dapat dipastikan bahwa tidak ada garis yang jelas membatasi kapan individu dapat menjadi sosok idealis dan realis.

Lantas bagaimana pengaruh sudut pandang idealis dan realis dalam memengaruhi kita dalam meniti karier?

Banyak Lulusan, Banyak Pengangguran

Di satu sisi, bertambahnya grafik total generasi muda yang berhasil menyelesaikan pendidikan merupakan sebuah tanda positif akan perkembangan pendidikan di Indonesia. Namun di sisi lain, Youngvestors tentu memahami bagaimana generasi muda tidak belajar untuk mendapat gelar dan pamer ijazah, namun untuk turut terjun dalam masyarakat dan mendapat penghasilan. Memiliki banyak kaum intelektual berarti harus memiliki banyak lapangan pekerjaan. Dan ketika hal tersebut tidak mampu terpenuhi, satu-satunya hal yang muncul adalah berkembangnya pengangguran.

Jika dipandang melalui sudut pandang idealis, kita tentu akan berfokus pada bagaimana negara atau masyarakat itu sendiri harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Secara teori, harus tercipta keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam aspek pekerjaan. Namun di sisi lain apakah ada jaminan bagi tiap-tiap individu untuk mendapatkan pekerjaan? Tidak.

Youngvestors tentu harus menerima kenyataan pahit bahwa tidak akan ada lapangan pekerjaan yang disodorkan secara cuma-cuma. Youngvestors bersama beribu calon karyawan lainnya harus saling berhadapan untuk merebut satu bangku dalam perusahaan. Dan itu adalah fakta yang tidak dapat dielakkan.

Uang vs. Kebahagiaan

Dalam memandang dunia, individu terbagi atas sosok-sosok yang yang siap mengorbankan apapun demi menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam semesta yang sama, akan ada sosok lain yang berusaha untuk menghasilkan uang sesuai dengan passion dan kesenangannya. Lantas mana yang benar dan mana yang salah? Tidak ada.

Pihak-pihak realistis yang memandang uang sebagai satu-satunya pondasi dalam menjalani hidup tentu tidak akan repot-repot mencari pekerjaan yang sesuai passion. Tidak ada lagi pandangan harus mendapat pekerjaan yang nyaman, yang membuat bahagia dan sebagainya. Dari A, B, sampai Z akan disikat jika uangnya besar! Tapi pihak-pihak yang berpegang teguh dengan keinginannya atau pihak dengan privilege yang lebih besar mungkin tidak segan menganggur atau bergaji kecil demi menemukan pekerjaan yang dianggap sesuai.

Berada dalam Batas Buram Keduanya

Hampir semua orang akan pernah berada dalam garis tengah, garis yang membatasi idealis dan realis dalam memandang dunia. Jika Youngvestors berkaca pada banyak orang sukses, banyak dari mereka yang pada awalnya berdiri dengan segenggam idealisme yang hendak dicapai. Membawa pengharapan-pengharapan yang dipandang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun dalam praktiknya banyak dari mereka yang kemudian harus mengambil keputusan realistis untuk tetap stabil dalam dunia karier. Di sisi lain, pemimpin-pemimpin realis tentu juga turut membawa segenggam nilai yang ingin dicapainya untuk dapat berjalan terarah. Tidak hanya pemimpin-pemimpin realis, sosok idealis juga banyak ditemukan dalam berbagai lingkungan pekerjaan.

Begitu pula bagi Youngvestors yang tidak perlu pusing memikirkan harus mengubah sudut pandang untuk dapat meniti karier dengan baik. Idealisme dan realistis bukan tidak mungkin untuk berjalan beriringan. Maka tidak perlu ada perbandingan besar-besaran antara keduanya dalam memandang dunia. Youngvestors tetap dapat menjadi sosok idealis yang turut memerhatikan fakta di depan mata atau menjadi sosok realis yang memegang teguh nilai-nilai kehidupan. Cukup fair, bukan?

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada Youngvestors lainnya. Bagikan pengalaman Youngvestors dalam kolom komentar dan kunjungi akun Instagra, @i_amtalentindo untuk berbagai artikel lainnya. Sampai bertemu di lain waktu!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Peluang Mencapai Financial Freedom bagi Milenial!

Generasi milenial seringkali dicap sebagai generasi dengan tingkat produktivitas dan rasa ingin tahu yang tinggi.  Meski begitu, hal ini tidak menjadi jaminan generasi milenial mampu mengelola uang dengan baik. Pasalnya, produktivitas yang tinggi tersebut dibarengi dengan sifat konsumtif yang cukup tinggi sehingga generasi milenial diprediksi akan cukup sulit mencapai financial freedom.

Financial freedom merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan kebebasan finansial individu, dimana individu dapat secara bebas melakukan transaksi tanpa memiliki ketergantungan berarti terhadap jumlah uang yang dimiliki.

Sumber: www.freepik.com

Lantas apakah generasi milenial tetap memiliki kesempatan untuk mencapai financial freedom seperti generasi lainnya? Jawabannya, iya! Yuk, simak tips berikut ini untuk melihat seberapa besar peluang yang dimiliki generasi milenial dalam mencapai financial freedom!

  1. Konsisten terhadap Rincian Anggaran

Tahap pertama yang dibutuhkan dalam mencapai financial freedom adalah membuat anggaran dan konsisten menjalankannya. Catatlah perkiraan semua kebutuhan dan tagihan yang akan dibayar agar Youngvestors mampu melihat seberapa besar pengeluaran yang dibutuhkan. Pastikan Youngvestors lebih bijak dalam mengalokasikan uang dan cobalah mengurangi pengeluaran mendesak pada hal-hal kurang penting.

  1. Lunasi Hutang

Sebelum mencapai financial freedom, pastikan Youngvestors telah melunasi segala bentuk tagihan. Meskipun cukup sulit, hal ini merupakan langkah penting untuk memastikan Youngvestors dapat bebas melakukan transaksi. Dalam tahap ini, Youngvestors harus mendapatkan pendapatan yang cukup besar, baik dengan menemukan pekerjaan sampingan dengan gaji yang cukup tinggi atau mengerjakan project-project yang dapat membantu menghasilkan uang.

  1. Investasi

Salah satu kunci penting dalam mencapai financial freedom adalah passive income. Dengan melakukan investasi pada bidang yang tepat, Youngvestors akan membuka peluang untuk mendapatkan passive income. Investasi dapat dilakukan dalam bentuk apapun sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Youngvestors. Youngvestors dapat berinvestasi dengan melakukan pembelian rumah atau bangunan, bermain saham dan reksadana, atau berinvestasi pada perusahaan-perusahaan start up.

Berdasarkan penjelasan di atas, generasi milenial nyatanya memiliki kesempatan yang sama dengan banyak generasi lainnya untuk mencapai financial freedom. Meski generasi milenial cukup kosumtif, mereka tetap mampu mencapai financial freedom jika dibarengi dengan kesadaran dan niat yang kuat. Maka dari itu, penting bagi generasi milenial untuk mulai mengelola keuangan sejak dini dan memperkirakan arah dan tujuan hidup di masa depan.

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya! Bagikan pengalaman Youngvestors dalam kolom komentar dan kunjungi akun instagram @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya. Sampai bertemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

First Impression Saat Melamar Kerja Baik, Gimana Sih Caranya?

Dalam dunia kerja, skill dan pengetahuan tidak menjadi satu-satunya poin penting yang harus diperhatikan. Banyak pelamar kerja melupakan fakta bahwa para perekrut akan melihat lebih dulu penampilan saat wawancara dan first impression dibandingkan hal-hal abstrak berupa ide dan kreativitas. Maka dari itu, menciptakan first impression saat melamar kerja adalah langkah utama untuk membuka gerbang kesuksesan.

First impression merupakan hal yang dilihat oleh individu ketika melihat individu lainnya untuk pertama kali. Dalam dunia kerja, first impression berguna untuk menciptakan ketertarikan perekrut sebelum mengenal Youngvestors lebih jauh dalam tes kerja. Lantas, hal apa yang perlu diperhatikan untuk menciptakan first impression yang baik? Yuk, simak infonya!

  1. Cara berpakaian
Sumber: www.pinterest.com

Penggunaan pakaian yang tepat merupakan poin paling penting dalam menciptakan first impression. Hal ini dikarenakan orang yang tidak dikenal akan cenderung menilai dari segi penampilan. Maka dari itu, Youngvestors harus memastikan bahwa pakaian yang digunakan tidak salah kostum. Sebelum menghadiri tes kerja, pastikan Youngvestors memastikan ketentuan dalam berpakaian yang sudah diatur atau dijelaskan oleh perusahaan. Gunakan baju yang nyaman dan membuat Youngvestors percaya diri, namun pastikan hal tersebut tidak menyalahi aturan, ya!

  • Body Language
Sumber: www.pinterest.com

Body language atau bahasa tubuh ternyata memberikan dampak yang signifikan dalam menciptakan first impression. Bahasa tubuh ini meliputi berbagai macam hal, mulai dari gerak tubuh hingga mimik waja Bahasa tubuh yang baik akan memberikan kesan yang baik pula. Youngvestors dapat memulai dengan hal-hal kecil, seperti tersenyum, menjaga kontak mata dengan baik, serta memerhatikan postur tubuh.

  • Cara Berbicara
Sumber: www.freepik.com

Saat melakukan tes kerja, Youngvestors tentu akan bertemu dengan berbagai orang dan harus menjawab berbagai pertanyaan. Maka dari itu, penting bagi Youngvestors untuk melatih intonasi dan gaya berbicara untuk meninggalkan kesan yang baik saat melamar kerja. Dalam beberapa kasus, gaya berbicara yang lebih cepat dianggap sebagai sosok yang lebih percaya diri dan memiliki antusiasme tinggi. Namun begitu Youngvestors juga harus menyiapkan jawaban yang padat dan berisi untuk membuktikan kualitas Youngvestors dalam bidang tersebut.

Youngvestors tentu sudah memahami bahwa skill dan pengetahuan tidak menjadi satu-satunya tolak ukur kesuksesan dalam melamar kerja. Dalam menciptakan first impression yang baik, Youngvestors tidak hanya mampu menggunakan tips tersebut dalam dunia pekerjaan saja, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, membiasakan diri sejak dini untuk menciptakan kesan yang baik saat bertemu orang asing bukanlah ide yang buruk.

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan dengan Youngvestors lainnya! Untuk informasi tentang karier lainnya, kunjungi dan ikuti akun instagram @i_amtalentindo. Sampai ketemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Begini Tahap Tes Kerja, Krusial!

Mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang layak sejak dulu memang menjadi sasaran bagi semua orang. Namun untuk dapat lolos pekerjaan, Youngvestors tentu membutuhkan usaha ekstra agar mampu bersaing dengan pelamar kerja lainnya. Dalam prosesnya, Youngvestors akan menemukan berbagai tahapan tes yang berbeda, baik secara pelaksanaan maupun tingkat kesulitannya. Mintor akan membantu Youngvestors untuk mempersiapkan diri, Maka dari itu, hari ini Mintor akan mengenalkan Youngvestors terhadap berbagai tahapan dalam tes kerja. Yuk, simak infonya!

  1. Seleksi Administrasi
Sumber: www.dribbble.com

Seleksi administrasi merupakan gerbang awal untuk mendaftar kerja. Pada tahap ini, Youngvestors akan diminta untuk mengumpulkan berbagai jenis persyaratan sebagai pendukung, mulai dari ijazah, Kartu Tanda Penduduk (KTP), portofolio, daftar riwayat hidup (CV), atupun resume dan berbagai dokumen pendukung lainnya. Saat menyiapkan berkas tersebut, Youngvestors harus memastikan semua berkas telah diinput sesuai syarat dan tidak terjadi kesalahan sedikitpun. Kesalahan dalam seleksi administrasi sering terjadi dengan alasan berkas tidak lengkap, tidak sesuai persyaratan, hingga kesalahan penulisan pada nama perusahaan.

  • Kompetensi Dasar dan Psikotes
Sumber: www.dribbble.com

Jika Youngvestors lulus pada seleksi administrasi, tahap selanjutnya adalah tes kompetensi dasar dan psikotes. Pada tahap ini, Youngvestors akan dihadapkan dengan berbagai jenis soal terkait matematika dasar, soal logika, tes bahasa inggris, hingga tes kepribadian. Tahap seleksi yang satu ini akan menyaring Youngvestors sesuai kemampuan dan kencenderungan kepribadian sesuai tolak ukur perusahaan. Namun Youngvestors tidak perlu khawatir. Untuk menyelesaikan tahap ini, Youngvestors hanya perlu menyiapkan diri dengan baik dan bersikap jujur saat mengerjakan tes!

  • Wawancara
Sumber: www.creativemarket.com

Tes wawancara merupakan tes paling krusial yang kerap kali menuai mimpi buruk bagi para pencari kerja. Tes wawancara biasanya dilakukan secara berbeda tergantung perusahaan yang menaungi. Dalam beberapa kasus, Youngvestors harus mengikuti dua kali wawancara, yakni dengan HRD ataupun user dan Direktur. Namun dalam kasus lainnya, Youngvestors mungkin hanya perlu melakukan satu kali wawancara dengan 2-3 interviewer di dalamnya. Pada tahap ini, Youngvestors harus menyiapkan jawaban atas pertanyaan tidak terduga yang berpeluang muncul dalam wawancara. Bersikaplah jujur dan tetap percaya diri.

  • Tes Kesehatan
Sumber: www.dribbble.com

Pada tahap yang satu ini, Youngvestors akan menghadapi berbagai pemeriksaan atau bahkan ujian fisik. Youngvestors harus memahami kondisi kesehatan dengan baik sebelum mendaftar. Tidak ada kiat-kiat penting dalam tes yang satu ini. Youngvestors harus terus menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat sebagai solusinya.

Jika Youngvestors berpikir bahwa tes kerja membutuhkan usaha yang besar, asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Dibandingkan usaha yang besar, tes kerja lebih membutuhkan pendekatan yang tepat. Jika Youngvestors mampu menganalisa proses tahapan kerja dengan baik, maka Youngvestors dapat menghasilkan output yang lebih maksimal. Maka dari itu, Youngvestors tidak perlu ragu untuk mulai berlatih dan mempersiapkan diri sejak dini. Jika Youngvestors memiliki pengalaman dan kiat untuk dibagikan, silahkan berdiskusi dalam forum komentar!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan dengan Youngvestors lainnya! Untuk informasi tentang karier lainnya, kunjungi dan ikuti akun instagram @i_amtalentindo dan tunggu artikel berikutnya, ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Karier di Mata Milenial

Dalam dunia pekerjaan, tiap-tiap individu memiliki tujuan dan sasarannya masing-masing. Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor yang berbeda, mulai dari usia, pengalaman, bahkan gender. Hari ini, Mintor akan mengajak Youngvestors untuk melihat bagaimana pandangan milenial terhadap dunia kerja. Penasaran apa yang dicari milenial? Yuk, kita simak infonya!

  1. Self-development
Sumber: itsnicethat.com

Para pemikir konservatif kerap kali melabeli anak-anak milenial sebagai generasi yang pemalas. Namun jika melihat fakta di lapangan, generasi milenial justru cenderung lebih melek terhadap perubahan pasar dalam dunia kerja. Hal ini mengakibatkan milenial lebih berambisi dan giat dalam menemukan wadah-wadah sebagai upaya mencapai pengembangan diri yang lebih baik. Selain mendapatkan penghasilan, banyak generasi milenial yang menjadikan tempat bekerja sebagai wadah untuk belajar dan mengembangkan diri. Maka dari itu, tidak jarang dari kita yang melihat teman-teman mulai berambisi untuk mencoba hal-hal baru.

  • Fleksibilitas
Sumber: debutart.com

Generasi milenial hidup berdampingan dengan perkembangan teknologi yang pesat. Maka dari itu, adalah hal lumrah bagi generasi milenial untuk bekerja dengan sistem yang lebih efektif dan efisien. Berbeda dengan pandangan tradisional yang mengedepankan kerja perkantoran, generasi milenial lebih cenderung menyukai kehidupan kerja yang lebih fleksibel, baik secara waktu dan tempat.

  • Suasana Kerja
Sumber: www.pinterest.com

Dibandingkan sistem yang kaku dan bersifat hierarki, generasi milenial lebih menyukai struktur organisasi datar. Generasi milenial pada dasarnya kurang menyukai perintah dan paksaan dalam dunia kerja. Struktur organisasi yang datar memberikan ruang bagi generasi milenial untuk mendapatkan insight dengan cara yang lebih akrab. Hal ini memberikan ruang bagi generasi milenial untuk merasa lebih dihargai dalam pekerjaannya, sekaligus akan memudahkan mereka dalam menerima kritik dan saran karena terciptanya hubungan yang lebih solid.

Ternyata perubahan pola hidup dan kebiasaan juga memberikan banyak perubahan dalam pola pikir dan tujuan dalam berkarier. Berdasarkan informasi di atas, poin berapa yang paling Youngvestors cari dalam dunia kerja? Yuk, komen dan bagikan pandangan Youngvestor terkait materi hari ini!

Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan lupa komen dan bagikan artikel ini kepada Youngvestor lainnya. Sampai ketemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Bukan HOAX, Milenial Bisa Punya Properti!

Sumber: Freepik – House Images

Halo, Youngvestors!

Investasi properti, pasti kalian kenal dan sering dengar, bukan? Investasi properti bisa berupa membeli sebuah rumah, apartemen, ruko, kos-kosan, atau tanah. Mengingat bahwa permintaan akan properti selalu meningkat, harga properti akan semakin meningkat dan membuat investor semakin tertarik untuk berinvestasi dalam sektor properti.

Harga properti selalu naik mengakibatkan pandangan bahwa hanya orang kaya saja yang dapat membelinya. Tapi jangan salah menilai, generasi milenial seperti kita ini juga mampu loh untuk membeli properti! Gunakan beberapa tips di bawah ini untuk kalian yang ingin berinvestasi properti di usia muda, yuk!

1. Memilih Properti Sesuai Budget

Tadi Mintor telah singgung beberapa jenis properti yang umumnya dijadikan investasi oleh investor properti. Rumah, apartemen, ruko, kos-kosan, atau tanah memiliki karakteristiknya tersendiri dan tentunya harga yang berbeda-beda. Kita perlu mengetahui berapa budget yang bisa kita sisihkan untuk membeli properti tersebut yang nantinya kita sesuaikan dengan jenis properti yang tersedia. Jangan sampai kita terlanjur terpikat dengan properti yang kita suka, namun harus hilang harapan karena budget yang tidak tercukupi. Entah itu kita akan memutuskan menggunakan kredit bank, namun tetap harus mempertimbangkan segala aspek yang ada ya, Youngvestors!

2. Menyiapkan Down Payment

Sebelum membeli rumah, kita perlu untuk menyiapkan uang muka karena biasanya kita akan ditagih untuk membayar uang muka atau sebagai uang tanda jadi untuk booking rumah. Jika kita melakukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kita harus melunasi uang muka rumah tersebut pada pengembang, loh! Jadi kalian dapat memperkirakan total budget yang telah berhasil dikumpulkan agar dapat memiliki rumah pertamamu. Usahakan untuk membayar uang muka dengan jumlah nominal yang besar agar cicilan akan terasa lebih ringan setiap bulannya. Kalian bisa untuk sisihkan uang tabungan untuk setidaknya mencapai target uang muka terlebih dahulu.

3. Jangan Lupakan Money Management

Setelah ada budget, kita perlu untuk melihat kesehatan keuangan kita. Jangan sampai kita menggunakan seluruh harta yang kita miliki untuk membeli sebuah properti yang mungkin bertujuan untuk investasi. Dana untuk investasi sebaiknya menggunakan uang dingin yang memiliki arti bahwa uang tersebut tidak akan kita gunakan dalam jangka panjang. Percuma saja jika kita berhasil membayar uang muka, namun tidak lagi memiliki harta kekayaan untuk membayar cicilan KPR dan kebutuhan hidup. Money management bisa kita lakukan dengan mengkategorikan antara tabungan, kebutuhan, dan keinginan dengan persentase atau langsung sebesar nominal yang disesuaikan dengan kehidupan kita. Sehingga akan membantu untuk kita mengatur uang yang masuk dan keluar dalam rekening kita.

4. Mencari Bank Untuk KPR yang Tepat

Bank memiliki kebijakan penetapan suku bunga yang berbeda-beda, ada yang menetapkan bunga yang besar namun dengan manfaat lain yang menggiurkan atau bunga yang kecil tanpa manfaat lainnya. Yang perlu kita lakukan adalah dengan membandingkan antar bank dan mencari tahu informasi yang detail dan lengkap. Hal ini harus dilakukan karena ini berkaitan dengan harta yang kita miliki. Bank juga memiliki peraturannya tersendiri, seperti jika kita terlambat beberapa bulan, rumah kita yang dikreditkan dapat ditarik kembali dan dapat menjadi barang lelang.

Itu dia 4 tips yang dapat Mintor bagikan untuk Youngvestors yang memiliki impian untuk berinvestasi properti sedini mungkin. Yuk kita bersama-sama berani bertindak untuk mewujudkannya demi masa depan yang gemilang agar saat di hari tua, kita dapat merasakan manfaat yang luar biasa.

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!