Jangan Sampai Ketinggalan, Yuk Mengenal DP 0% yang Sedang Viral!

Sumber: Freepik – Saving For House

Halo Youngvestors!

Sudah mendengar berita bahwa ada kebijakan terbaru dari pemerintahan belom? Atau sudah tahu tapi masih belum mengerti secara detail tentang DP 0% yang lagi viral belakangan ini? Artikel ini akan membantu kalian untuk dapat lebih mengenal apa itu DP 0% hingga keuntungan yang akan kalian dapatkan dari kebijakan ini. Tanpa panjang lebar, yuk langsung aja kita membahas mengenai DP 0%.

DP merupakan singkatan dari Down Payment yang artinya uang muka. Ketika kita membeli rumah atau properti yang lain, biasanya kita akan diberikan pilihan dalam proses pembayaran yaitu bisa langsung lunas atau dengan cicilan per tahun sesuai dengan keinginan dan prosedur yang disediakan. Nah, biasanya ketika seseorang membeli dengan cara mencicil, mereka akan diberikan pilihan untuk berapa banyak pembayaran DP ketika ingin membayar rumah pertama kali. Namun, kini pemerintah menyediakan fasilitas untuk calon pembeli properti untuk dapat melakukan cicilan tanpa harus membayar uang muka. Sektor perbankan akan menanggung pembiayaan tersebut dan konsumen dapat memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR / KPA).

Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan pelonggaran ini pada Loan To Value (LTV) yang merupakan jumlah nilai barang yang dapat dicicil oleh masyarakat. Pada kasus ini, LTV untuk kredit properti sebesar 100% sehingga masyarakat bisa membeli rumah tanpa harus membayar uang muka. Jika LTV sebesar 80%, maka 80% dari total harga rumah dapat dicicil, dan 20% harus dibayar tunai di muka (uang muka). Jika LTV sebesar 100%, maka calon pembeli tidak perlu mengeluarkan uang muka atau DP.

Tujuan dari adanya kebijakan terbaru oleh pemerintah ini untuk meningkatkan perekenomian di Indonesia yang lesu akibat pandemi COVID-19. Pemerintah berharap bahwa kebijakan ini bisa mendorong pemulihan industri properti dan sektor perbankan. Kebijakan terbaru ini telah berlaku sejak 1 Maret 2021 hingga 31 Desember 2021. Cukup lama ya, Youngvestors!

Tentunya, kebijakan ini memiliki beberapa ketentuan dan persyaratan. Syarat untuk konsumen adalah harus Warga Negara Indonesia (WNI) dengan usia 21 tahun, memiliki penghasilan tetap, memiliki catatan kredit yang sehat, fotokopi tanda pengenal seperti KTP, KK, dan NPWP. Tak hanya itu, konsumen harus menyertakan slip gaji, surat keterangan kerja jika konsumen merupakan pegawai, akta pisah harta notaris, surat rekomendasi perusahaan, dan fotokopi surat nikah atau cerai untuk yang sudah menikah, fotokopi surat izin praktek jika bekerja profesional seperti dokter dan pengacara, serta fotokopi rekening koran.

Tidak hanya persyaratan dari konsumen, untuk mencegah kredit macet meningkat maka pemerintah juga memberikan persyaratan untuk bank yang menjadi tujuan dari pelaksanaan DP 0% untuk memberikan DP 0% untuk seluruh tipe dan konsumen, bank tujuan harus memiliki Non-Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah kurang dari 5%. Sedangkan untuk bank yang memiliki rasio NPL lebih dari 5% hanya dapat memberikan DP 0% jika memenuhi persyaratan yaitu konsumen merupakan pembeli rumah pertama yang artinya konsumen belum pernah memiliki rumah sebelumnya dan hanya dikhususkan untuk hunian tipe 21 ke bawah baik itu untuk rumah, apartemen, dan ruko.

Youngvestors yang tertarik untuk mengajukan KPR di bank untuk memanfaatkan DP 0% tidak perlu ragu bagaimana prosedur untuk pendaftarannya. Hal ini disebabkan karena tidak ada perbedaan jika Youngvestors memilih memanfaatkan DP 0% maupun tidak seperti sebelum adanya kebijakan. Seluruh pengajuan KPR seperti pada umumnya, yang terpenting adalah Youngvestors melengkapi persyaratan untuk melakukan persetujuan pengajuan KPR.

Pemerintah juga tidak membatasi harga properti yang dibeli dalam memfasilitasi rumah ini, loh! Mau harga murah ataupun mahal, kita bisa untuk memanfaatkan DP 0% tersebut. Tipe rumah pun juga tidak dibatasi, mulai dari tipe yang lebih kecil dari 21 m hingga tipe yang lebih besar dari 70 m.

Untuk kalian yang mau menjadi investor properti, ini merupakan kesempatan untuk investasi tanpa modal di muka. Bahkan untuk orang biasa pun juga bisa merasakan manfaatnya yaitu bisa membeli rumah sekarang juga tanpa perlu membayar uang muka. Namun, ada juga kekurangan dari kebijakan ini yaitu karena tanpa uang muka, cicilan bulanan menjadi lebih besar. Akibat dari cicilan bulanan yang besar, maka penghasilan kita juga harus lebih besar. Sesuai dengan penjelasan mengenai syarat dari bank yang dapat melakukan kebijakan ini, akhirnya juga menjadi kekurangan dari kebijakan ini sebab tidak semua bank dapat memenuhi persyaratan tersebut.

Nah, Youngvestors pasti sudah sangat paham dengan DP 0% yang lagi viral ini, bukan? Dari penjelasan mengenai apa itu uang muka sebesar 0%, persyaratan dari pihak konsumen dan bank, kelebihan, dan kekurangan dari kebijakan tersebut. Kita juga masih melihat bagaimana hasil dari kebijakan ini, apakah efektif untuk dilakukan atau tidak. Namun kita perlu percaya bahwa seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah termasuk DP 0% ini untuk meningkatkan perekonomian kita bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau negara saja. Pemerintah tentu juga ingin untuk setiap masyarakatnya memiliki hunian pertama yang akan meningkatkan perekonomian Indonesia.

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Mana yang Terbaik? Rumah atau Apartemen?

Sumber: Megapixl – Question of Choice Between House and Apartment

Hai Youngvestors!

Memiliki tempat tinggal adalah impian dari setiap orang. Apalagi generasi muda yang sangat mengharapkan memiliki tempat tinggal sendiri di usia muda. Dulu, jika kita membicarakan tempat tinggal, yang terbayang adalah sebuah rumah. Namun zaman sekarang, pemahaman ini sudah berubah dimana ada banyak yang menawarkanhal baru dengan menyesuaikan keadaan dan perubahan. Apartemen kini merupakan salah satu tempat tinggal yang juga dicari dan ada dimana-mana, khususnya kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Apalagi apartemen kini menawarkan fasilitas yang mencukupi dibandingkan rumah.

Apartemen hadir karena memenuhi masalah utama yaitu jumlah tanah yang terbatas untuk dibangun,karena jumlah yang tidak pernah bertambah tersebut, harga rumah selalu naik setiap tahunnya. Penduduk Indonesia jugapasti bertambah setiap tahunnya, maka dari itu, apartemen dibangun di tanah namun dengan bangunan yang tinggi sehingga tidak memakan banyak tanah. Berbeda dengan perumahan yang selalu terbangun melebar yang memerlukan banyak tanah untuk beberapa rumah. Setiap properti memiliki keunggulan dan kekurangannya tersendiri, termasuk rumah dan apartemen. Yuk langsung  kita lihat perbandingan antara keduanya!

Sumber: Freepik – House Searching Concept

1. Lokasi

Tak jarang kita menemukan apartemen selalu berada di lokasi yang sangat strategis, seperti berada di pusat kota, mudah dalam hal transportasi, dekat dengan pusat perbelanjaan, hingga wilayah yang padat akan penduduk. Lokasi menjadi keunggulan dari apartemen karena orang akan membutuhkan untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Akibat keterbatasan lahan, perumahan akhirnya dibangun di wilayah pinggiran kota yang tentunya mereka sesuaikan dengan target konsumen yang biasanya lebih menengah ke bawah dengan harga yang terjangkau. Sedangkan rumah yang berada di lokasi strategis akan jauh lebih mahal namun akan banyak dicari oleh banyak orang untuk nantinya dijual atau diinvestasikan.

Sumber: Freepik – House Searching Concept

2. Kepemilikan Unit

Jika tinggal di apartemen, kita tidak dapat mengakui bahwa tanah yang berada di bawah bangunan tersebut adalah kepemilikan kita. Biasanya pemilik apartemen hanya mendapatkan Hak Guna Bangun (HGB) dengan masa berlaku yang terbatas. Meskipun HGB dapat diperpanjang, namun akan membutuhkan dana dalam kepengurusannya. Dibandingkan dengan rumah, kini sudah banyak rumah yang telah bersertifikat hak milik. Bahkan jika rumah tersebut awalnya hanya memiliki HGB, dapat diganti menjadi SHM agar lebih nyaman untuk ditinggali dalam jangka waktu yang panjang.

Sumber: Pinterest – Pin on Icon

3. Investasi

Properti tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal, namun dapat dijadikan sumber passive income. Pendapatan sewa dari properti yang kita sewakan seperti ruko, rumah, apartemen, hingga kos dapat menjadi peluang untuk menambah penghasilan kita selain dari pendapatan tetap melalui gaji tempat kita bekerja. Maka dari itu, perlunya untuk memperhatikan lokasi adalah penting untuk dijadikan sebagai peluang berbisnis. Hunian yang menguntungkan adalah hunian yang memiliki prospek untuk jangka panjang, selalu ada perkembangan oleh pengembang properti, dan lokasi yang strategis.

Memilih tempat tinggal bukan perkara yang mudah. Namun bukan berarti kita tidak mampu untuk membeli sebuah properti. Maka dari itu, kita harus bijak dalam menyesuaikan dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki. Perlu diingat bahwa properti merupakan tujuan jangka panjang, sehingga kita harus melihat prospek ke depan dalam membeli sebuah properti.

Salam I AM Community,
I AM Smart.
I AM Capable!

Dampak Kemajuan Industri Properti Bagi Perekonomian Negara

Sumber: Chemical Code – Why Traditional Marketing

Halo, Youngvestors!

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan bahwa sektor properti dapat menunjang perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan karena sektor properti memiliki pengaruh untuk sektor lainnya seperti sektor konstruksi maupun real estate. Beliau juga menyampaikan bahwa sektor konstruksi dan properti memiliki karakteristik yang bagus karena keduanya dapat menunjang sektor lain agar lebih berkembang untuk menumbuhkan perekonomian nasional.

Menurut perhitungan dari Sri Mulyani, pertumbuhan industri properti akan berdampak pula pada penciptaan lapangan kerja. Bahkan beliau menjelaskan bahwa 5 tahun terakhir, sektor industri Indonesia hanya bertumbuh di angka 3,5% saja.

Properti merupakan aset yang pasti ingin dimiliki oleh semua orang. Setiap orang memerlukan tempat tinggal sebagai tempat hunian untuk bertahan hidup. Setiap tahun, properti seperti pada harga perumahan selalu naik karena permintaan yang lebih tinggi dibanding jumlah rumah yang ditawarkan. Hal ini dibuktikan dengan survei penduduk tahun 2015 hingga 2019 terdapat sebesar 266,91 juta jiwa penduduk dimana kita ketahui bahwa  tanah yang ada di bumi ini tidak pernah bertambah jumlahnya. Pada tahun 2016, Bank Dunia merilis kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 920 ribu unit ribu per tahun sedangkan yang tersedia hanyalah 400 ribu unit per tahun.

Pulung Prahasto selaku Direktur Teknik dan Pengembangan Usaha PT Adhi Persada Properti mengatakan bahwa potensi hunian tapak alias rumah akan bertumbuh stabil seiring dengan pertumbuhan penduduk. Hunian tapak dirasa lebih stabil karena permintaan akan hunian tapak lebih banyak dibandingkan dengan apartemen. Masyarakat yang membeli rumah, biasanya untuk ditinggali sebagai hunian sedangkan apartemen lebih banyak dilirik oleh investor sebagai bisnis sewa properti dengan tujuan mendapatkan pendapatan tambahan.

Meskipun pandemi COVID-19 masih belum menemukan titik terang, sektor properti menjadi salah satu sektor yang diandalkan untuk membangkitkan perekonomian negara. Efek berganda yang dihasilkan melalui sektor properti ini, didukung oleh pemerintah menjadi salah satu leading sector karena memiliki multiplayer effect yang besar untuk menggerakkan 170 industri lain seperti bisnis arsitektur, interior, furniture, dan masih banyak lagi.

Bahkan untuk memasarkan produk properti saat pandemi COVID-19, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan yang bertujuan agar masyarakat dapat tertarik dalam melakukan investasi properti di Indonesia.

Tahun 2019, diketahui industri konstruksi dan real estate menyumbang sebesar 17,61% untuk perekonomian Jakarta. Adapun nilai penanaman modal asing melalui kedua industri tersebut sebesar 28,3% atau setara dengan Rp17,5 Triliun. Hal tersebut telah disampaikan oleh Wendy Haryanto selaku Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute melalui webinar bertajuk Pemantik Kebangkitan Ekonomi yang bekerja sama dengan dengan Center of Policy and Public Management Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.

Dalam webinar tersebut, Wendy juga menjelaskan mengenai pemulihan perekonomian dapat dimulai dengan pemberian fleksibilitas untuk developer yang siap membangun setidaknya 3 tahun mendatang. Hal itu disebabkan karena pandemi COVID-19 membuat developer menjadi terhambat dalam membuat rencana pengembangan untuk proyek yang mereka miliki.

Tentu kita sebagai masyarakat Indonesia berharap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bertumbuh meski pandemi COVID-19 masih berlangsung. Sebagai masyarakat Indonesia, yang dapat kita lakukan adalah dengan mendukung segala kebijakan yang diadakan oleh pemerintah. Keputusan pemerintah tentu telah memiliki proses yang panjang dan banyak pertimbangan untuk menghasilkan program yang baik untuk rakyatnya.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat, terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,
I AM Smart.
I AM Capable!