IG Live I AM Community x Bibit.id x BNI Asset Management : Tanam Bibit, Tuai Uang!

Oleh : Isabella Valentine dan Zakiah

Menurut Mr. Onggo, tujuan dari investasi saham ini lebih cocok dan baik untuk investasi jangka panjang. Jadi, setiap seseorang yang ingin berinvestasi saham, tidak dapat mengharapkan profitbesar dalam jangka waktu yang pendek. Hal itu merupakan salah satu materi yang seringkali menjadi pertanyaan para Youngvestor dalam kolom komentar bahwa banyak sekali milenial yang baru terjun ke dunai investasi. Namun, minimnya pengetahuan tersebut Mr. Onggo dan Mr. Raymond saling memberikan saran, serta tips and trick untuk memulai mengelola uang melalui investasi.

Rangkaian program acara I AM Comunity kian beranjak semakin luas. Kali ini terdapat rangkaian Instagram Live “Menjadi Petani Milenial : Gerakan Panen Anti Bokek”. Acara tersebut telah memasuki episode ketiga pada Jumat, 25 Juni 2021 lalu dengan mengusung tema “Tanam Bibit, Tuai Uang”. Live kali ini menghadirkan pembicara yang tidak kalah hebat dan menginspirasi dari episode sebelumnya, yaitu Mr. Onggo Wiliamto mewakili BNI Asset Management dan Mr. Raymond Iriantho mewakili Bibit ID. Dalam live kali ini, mayoritas materi yang dibahas adalah mengenai saham, serta bagaimana cara mengelolanya.

Kedua narasumber tersebut, juga menyinggung fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kerap menghantui para trader. FOMO merupakan fenomena saat trader dan investor takut tertinggal akibat pengaruh tingkat harga yang terus naik, sehingga memaksa membeli pada harga yang sangat tinggi. Perihal FOMO ternyata berkaitan erat dengan Psikologi Trading, terutama Recency Bias. Fenomena Recency Bias ini adalah kondisi pengalaman terkini yang memengaruhi cara berpikir seseorang, misalnya harga saham terus naik. Kemudian menjadi dasar pemikiran bahwa harga saham itu akan selalu naik di masa depan nanti. Padahal, faktanya tidak demikian, harga yang terus naik tersebut tidak menjamin apa yang terjadi di masa depan nanti. Sebab, ada berbagai macam kemungkinan, seperti dapat terjadinya anjloknya harga atau justru cuannya harga. Selain itu, media massa juga telah memperluas dampak dari FOMO ini, terhadap dunia trading dan investasi. Informasi mengenai saham, forex, serta bitcoin masih terus diperbincangkan di grup, forum, komunitas yang pada akhirnya memengaruhi banyak orang. Adapula rasa takut kehilangan pada kesempatan yang semakin menguat, apalagi kalau ada yang posting sedang profit portofolio. Hal tersebut pasti akan banyak seseorang yang gegabah untuk ikut-ikutan membeli saham yang sedang profit itu, karena takut ketinggalan dan tidak mau kehilangan kesempatan.

Dengan begitu, Mr. Onggo dan Mr. Raymond saling memberikan beberapa tips untuk mengatasi FOMO yaitu menyarankan agar para trader tetap berpegang pada rencana trading yang sudah disusun. “Setiap trader harus tahu strategi, membuat rencana trading, dan menjalankannya untuk mencapai kesuksesan jangka panjang” ungkap Mr. Raymond. Ditambah lagi atas pemaparan dari Mr. Onggo yang juga membenarkan hal ini, “Ya, sekarang banyak yang hanya ikut-ikutan tanpa memiliki plan dan berharap mendapat profit yang banyak, jelas itu bukan langkah yang tepat.”

Selain FOMO, Mr. Onggo dan Mr. Raymond juga menyinggung masalah uang dingin untuk investasi. Uang dingin atau idle money (dana menganggur) adalah uang yang tidak dimaksudkan untuk keperluan tertentu atau mendesak. Artinya, di luar dana kebutuhan sehari-hari, asuransi, dana darurat, uang pendidikan anak, uang cicilan rumah, dan lain sebagainya. Bisa diartikan bahwa apa yang terjadi dengan uang ini sebenarnya tidak berdampak langsung bagi kehidupan manusia. Hal ini dapat dicontohkan pada kasus uang pinjaman yang termasuk dari kartu kredit sebagai kasus di luar uang dingin. Artinya, seluruh uang yang digunakan tersebut memang ditujukan hanya untuk trading, bukan untuk hal lain. Jadi, saat melakukan trading kita bisa lebih fokus dan merancang strategi yang tepat. Mr. Onggo juga mengatakan bahwa tujuan investasi saham sebenarnya adalah untuk jangka panjang, maka ada baiknya untuk tidak terburu-buru menikmati keuntungan investasi. “Biarkan uang kamu terus berlipat ganda dalam kurun waktu lama, terutama bila kamu tidak punya kebutuhan mendesak.” Ujar Mr. Onggo.

Setelah berbincang, dan menyampaikan beberapa insight, tibalah pada saat sesi QnA dari para penonton. Sejak awal live dimulai, terlihat antusias penonton yang mengirimkan pertanyaan-pertanyaan dan menanggapi obrolan pembicara melalui kolom komentar. Ada banyak pertanyaan yang dijawab seputar investasi, salah satunya adalah mengenai strategi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan laba investasi dengan adanya diversifikasi. Menurut Mr. Raymond, sebenarnya ketika kita membeli suatu produk di reksadana maka itu sudah otomatis diversifikasi dan kalau dilakukan dengan benar maka tentu akan menghasilkan kentungan. Kemudian, menurut Mr. Onggo hal tersebut sebaiknya dilakukan jangan hanya berfokus pada satu jenis saja, tetapi dapat dibagi ke reksa dana lainnya untuk meminimalisasi risiko yang timbul, manakala nilai saham perusahaan terus mengalami penurunan ataupun melemah agar investasi kita tidak turut melorot dan nilai investasi tetap berkembang.

Selain itu, apabila seseorang memisahkan investasi dengan membeli dua saham dari perusahaan yang berbeda, maka hal tersebut akan mengurangi resiko terjadinya kerugian dana dan nilai portfolio ataupun investasi dapat terbilang cukup aman. Dengan kata lain, diversifikasi adalah strategi dalam menempatkan dana investasi ke dalam instrumen yang berbeda. Dengan kata lain, instrumen yang dimaksud adalah likuiditasnya, risiko, dan potensi returnnya. Sebagai contoh adalah potensi return investasi dalam saham akan berbeda dengan obligasi. Pada dasarnya nilai return dari saham lebih besar jika dibandingkan dengan obligasi. Hanya saja tetap risiko berinvestasi dalam saham juga jauh lebih besar dibandingkan dengan obligasi. Hal ini disebabkan karena fluktuasi dari harga saham lebih besar sehingga risiko lebih besar. Selain itu, likuiditas yang dimaksud di sini adalah kemudahan untuk menjual dan membeli sebuah instrumen untuk berinvestasi.

Setelah melewati beberapa jam, pada akhirya acara live Instagram ini ditutup dengan pembacaan pemenang giveaway dan penyampaian kesimpulan oleh moderator. Moderator mengatakan bahwa untuk memulai terjun pada dunia investasi, diperlukan banyak kesiapan. Mulai dari kesiapan modal, hingga kesiapan mental. Sebab, investasi bukanlah suatu hal coba-coba yang biasa dilakukan milenial saat ini hanya untuk trend saja. Padahal, apabila hal tersebut dilakukan tanpa memahami maksud dan tujuannya akan memberikan dampak yang cukup besar hingga dapat merugikan. Maka dari itu, Youngvestor di sini harus mengetahui apa yang menjadi tujuan dan keinginannya supaya terhindar dari segala macam pengaruh buruk akibat investasi. Sebab, sebelumnya ingin mendapat untung, tetapi justru menjadi buntung. Jangan sampai hal itu terjadi, ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart,

I AM Capable.

Instagram Live I AM Community x BNI AM Episode 2: PERBANYAK DIGIT TANPA MANDEK!

Oleh: Risda Wulan Nur Octafiani & Maulidya Nisaul Karimah

Rangkaian kolaborasi IG Live antara I AM Community dan BNI AM yang kedua dilanjutkan pada Jumat, 18 Juni 2021 dan dimulai pukul 15.00 WIB. Dipandu oleh Miss Ristridiyana Budiyanto sebagai moderator, dengan pembicara yaitu Miss Monica Tanata selaku Founder & CEO PT. Anak Muda Berkarya serta Mr. Onggo Wiliamto selaku Manager Channel Distribution dari PT. BNI Asset Management. Moderator mengawali IG Live ini dengan menyapa Youngvestors yang tergabung serta memperkenalkan kedua narasumber.

Masuk ke materi IG Live, moderator mempertanyakan sekaligus mengulas kembali mengenai needs vs wants kepada Miss Monica dan Mr. Onggo. “Menurut saya, needs vs wants itu tricky banget ya. Kita bisa tahu bahwa keinginan dan kebutuhan kita itu berbeda. Misalnya, setiap orang butuh liburan atau refreshing, tapi kita harus tanya ke diri kita sendiri, apakah bujet hiburan itu sesuai dengan keuangan kita atau bujet kantong kita.” jelas Miss Monica. “Makanya saya juga bilang ke temen-temen di IG Live minggu lalu, bahwa kita harus tentukan prioritas dulu, baru bisa membagi dana yang baik untuk needs vs wants-nya.” tambahnya.

Dilanjutkan oleh Mr. Onggo yang menyetujui pernyataan dari Miss Monica bahwa needs vs wants itu tricky. Beliau juga menceritakan pengalaman pada masa lalu disaat beliau membeli buku dengan diskon tinggi, tetapi hanya untuk dimiliki saja. Mr. Onggo mengatakan pada awalnya beliau merasa membutuhkan buku itu (needs), tetapi setelah membelinya hampir bertahun-tahun buku itu tidak disentuh dan masih dalam keadaan baru. “Ya jadinya cuma wants ya. Keinginan untuk beli sesaat karena adanya diskon. Memang needs dan wants setiap orang berbeda-beda. Tapi kuncinya dari contoh itu adalah sesuatu yang kita beli dan digunakan langsung, itu akan menjadi needs. Jadi, pinter-pinternya kita aja untuk mengatur prioritas mana yang bener-bener needs dan mana yang itu wants.” tambah Mr. Onggo.

Miss Ristri menanyakan needs vs wants kepada narasumber. (Foto oleh: Risda Wulan)

Pertanyaan dilanjutkan oleh Miss Ristri mengenai rumus sederhana dalam pengalokasian keuangan. Mr. Onggo berpendapat bahwa jika kita sudah berpenghasilan, yang diutamakan adalah ditabung/diinvestasikan terlebih dahulu (saving). Tidak langsung spending. “Kalo saya pribadi, setelah gajian, minimal saya save 20% dulu, sisanya 50% untuk kebutuhan sehari-hari. Lalu 30% sisanya untuk cicilan rumah/mobil. Konsep cicilan ini kalo bisa jangan barang yang konsumtif ya. Misalnya aset produktif seperti rumah, apartment, yang nilainya bisa terus naik.” tambah Mr. Onggo.

Berbeda dengan pendapat Miss Monica, beliau menyesuaikan dengan kebutuhan sehari-harinya, diantaranya 10-15% untuk kebutuhan sehari-hari seperti skincare, makan, dll. Kebutuhan selanjutnya sebesar 15% untuk dana darurat, 10% untuk edukasi, misal seminar, buku. Lalu 10% untuk perpuluhan dan sisanya untuk investasi. “Semakin tinggi pendapatan saya, bukan berarti gaya hidup saya juga semakin tinggi. Gaya hidup saya masih tetap seperti itu, tapi saya alokasikan lebih banyak untuk menabung, dibandingkan untuk jajan.” lengkap Miss Monica.

Kemudian Miss Ristri mengajukan pertanyaan kepada narasumber, mengenai manfaat dan tujuan dari investasi. Menurut Miss Monica, tujuan dari investasi adalah membuat uang bekerja untuk kita, jika pendapatan dan uang yang dimiliki itu hanya digunakan untuk ditabung, uang tidak akan berkembang. Terdapat banyak sekali perbedaan antara investasi dan menabung. Investasi dilakukan untuk jangka panjang kedepannya. Sedangkan menabung dilakukan bisa untuk jangka pendek atau untuk dana darurat. Miss Monica juga berpesan agar tidak melakukan investasi hanya untuk mengikuti trend yang ada, investasi harus di lakukan dengan hati-hati.

Mr. Onggo kemudian berpendapat jika investasi tidak harus dengan nominal uang yang besar. Ada reksadana yang bisa dibeli dengan nominal 10 ribu rupiah saja. Beliau memberitahu bahwa saat ini banyak pula platform online yang menyediakan pembelian saham dan kini investasi dapat dilakukan dimanapun dalam keadaan apapun.

Perbincangan seputar investasi antara narasumber dengan moderator. (Foto oleh: Risda Wulan)

Setelah mengupas secara rinci mengenai materi investasi, Miss Ristri melanjutkan ke sesi QnA dengan 3 penanya terbaik. Salah satu pertanyaan berasal dari @0nky_y dengan pertanyaan apakah investasi yang cocok untuk pemula, apakah di saham, pasar uang, atau obligasi. Mr. Onggo menjawab bahwa yang paling cocok untuk pemula adalah di instrumen reksadana pasar uang. “Kenapa? Karena tidak berfluktuatif. Dicoba dulu selama 1-3 bulan. Sembari mencoba reksadana pasar uang, kan ada grafiknya juga, bisa dilihat disitu. Yang penting adalah tujuan investasinya, kalo tujuan investasinya untuk satu tahun ke depan, jangan coba-coba reksadana saham (terlalu pendek). Disesuaikan dengan karakteristik jangka waktunya juga.” jawab Mr. Onggo.

Selanjutnya, Miss Monica memberikan pesan khusus kepada milenial yang ingin melakukan investasi tetapi juga masih ingin berfoya-foya, bahwasannya milenial harus memiliki dana yang cukup dan sesuai untuk foya-foya, serta mencoba mendisiplinkan diri untuk menabung dan investasi untuk masa depan. Harus ada tekad untuk investasi yang tujuannya jangka panjang. Tidak hanya itu, Miss Monica menambahkan bahwa kita harus berhati-hati dalam investasi dengan cara mengenali potensi serta instrumen investasi.

Mr. Onggo memberikan pesan bahwa kita harus disiplin dan menyesuaikan gaya hidup dengan benar. Penting bagi kita untuk belajar dan mencoba praktik berinvestasi agar terasa resiko, dampak, serta manfaatnya secara nyata. Beliau mengingatkan pula agar kita tidak terlalu berharap pada return investasi yang tinggi. Karena return yang bagus biasanya terdapat risiko yang tinggi pula. Salah satu tips untuk terhindar dari penipuan investasi saham adalah dengan melihat siapa yang memiliki perusahaan, track record, hingga risikonya.

Penjelasan dari Mr. Onggo. (Foto oleh: Risda Wulan)

Miss Ristri kemudian membacakan kesimpulan dari yang sudah dibahas dalam IG Live bersama Mr. Onggo dan Miss Monica yaitu kita harus bisa memulai gaya hidup baru, mendisiplinkan diri untuk mulai berinvestasi. Dari sedini mungkin kita harus mulai menabung dan investasi. Di usia yang masih muda pula kita bisa menambah digit dengan cara berinvestasi sebab pengeluaran kita belum terlalu banyak. Selain itu, hal terpenting dalam melakukan investasi adalah uang yang digunakan untuk investasi bukan uang panas atau uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kita, dalam hal ini harus benar-benar dibedakan, untuk mengurangi terjadinya risiko yang tidak diinginkan

Ucapan terima kasih oleh moderator dan pembicara. (Foto oleh: Risda Wulan)

Di akhir sesi terdapat pembacaan tiga orang pemenang giveaway oleh Miss Ristri, diantaranya : @eugencong @0nky_y @setiaanggrea. Miss Ristri juga menghimbau bahwa rangkaian IG Live bersama BNI AM tidak hanya sampai pada hari Jumat 18 Juni 2021, tetapi akan ada satu sesi terakhir yakni pada Jumat, 25 Juni 2021 bersama para speaker dari I AM Community, BNI Asset Management, Bibit.id serta Miss Meisy sebagai moderator.

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

“Alokasi Gaji Pertama, Gengsi vs Investasi”

Oleh : Gilang Dewanda Dwiguna dan Hedwige Gevelyne Arsietha

I AM Community sukses mengadakan Instagram Live bersama BNI Asset Management pada Jumat (11/6/21) lalu. Bertajuk “Alokasi Gaji Pertama, Gengsi vs Investasi”, Intagram Live ini merupakan pembuka dari rangkaian kegiatan Instagram Live yang diadakan oleh I AM Community yang berkolaborasi dengan BNI AM yang memiliki tema “Menjadi Petani Milenial : Gerakan Panen Anti-Bokek”. Instagram Live dimulai tepat pada pukul 15.00 WIB yang dipandu langsung oleh Mr. Edgar Bayu Refansyah selaku moderator yang merupakan Head dari Divisi Podcast and Youtube I AM Community. Instagram Live ini mengundang Ms. Nita Novita selaku Assistant Manager Channel Distribution dari BNI Asset Management serta Ms. Monica Tanata selaku Founder & CEO dari PT Anak Muda Berkarya sebagai pembicara.

Mr. Edgar Refansyah selaku moderator saat sedang membuka IG Live (Foto : Gilang Dewanda Dwiguna)

Kegiatan Instagram Live antara I AM Community x BNI Asset Management diawali dengan sambutan moderator kepada kurang lebih 50 audience yang berpartisipasi dan dilanjutkan dengan perkenalan moderator serta perkenalan dari dua pembicara. Kegiatan ini dimulai dengan moderator yang membuka pembicaraan dengan bertanya kepada para pembicara yakni Ms. Nita Novita dan Ms. Monica Tanata mengenai perjalanan karier mereka hingga akhirnya bisa dapat terjun ke dalam dunia investasi.

“Kalo saya dulu awalnya gak terlalu paham sama yang namanya investasi ya. Tapi setelah saya bekerja di bagian Marketing Communication (Marcomm) dari suatu perusahaan yang bergerak dibidang capital market, jadi mau gamau saya harus paham mengenai dunia investasi.” jawab Ms. Nita Novita mengenai perjalanan kariernya.

Mr. Edgar, Ms. Monica Tanata, dan Ms. Nita Novita saat sedang berbincang membahas alokasi gaji pertama (Foto oleh: Gilang Dewanda Dwiguna)

Moderator kembali melanjutkan kegiatan Instagram Live dengan bertanya mengenai perasaan hingga pengalokasian gaji pertama dari kedua narasumber.

“Rasanya seneng sih pas nerima gaji pertama, tapi banyak juga godaannya kayak pingin beli ini itu, ngopi sama temen, dll. Adapun kalo pengalokasian dana versi saya itu kurang lebihnya kayak gini, pengeluaran rutin bulanan 50%, bayar cicilan ataupun pay later 30%, kasih orang tua 10%, dan untuk investasi 10%.” ucap Ms. Nita dalam live tersebut.

“Kalo dulu saya pas nerima gaji pertama itu lebih dialokasikan ke perpuluhan atau sedekah karena saya masih tinggal bersama dengan orang tua jadi pengeluarannya tidak terlalu signifikan. Adapun sisanya saya alokasikan untuk dana darurat dan juga edukasi.“ lanjut Ms. Monica menambahkan.

Sesi QnA dengan para audience sedang berlangsung (Foto: Gilang dewanda Dwiguna)

Kegiatan Instagram Live tersebut dilanjutkan dengan sesi QnA dengan para audience, dengan batas pertanyaan sebanyak 3 penanya. Pada kesempatan kali ini, pertanyaan yang terpilih akan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah berupa uang digital sebesar Rp. 100.000,00 dari BNI AM. Moderator akan memilih pertanyaan menarik yang dikirimkan melalui vitur kolom QnA pada Instagram Live. Adapun salah satu pertanyaan terpilih yaitu “Bagaimana cara kita untuk menghindari investasi bodong?”. Ms. Nita dan Ms. Monica pun sepakat untuk menjawab bahwa “Jangan asal percaya atau teriming-iming dengan tawaran yang ga masuk akal. Kita harus lebih bijak dalam memilih jenis-jenis investasinya, kenali dulu resikonya dan juga research terlebih dahulu mengenai perusahaan yang membuka investasi tersebut.”

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit ini ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator mengenai pembahasan dari kedua narasumber dari kegiatan Instagram Live tersebut mengenai pengalokasian gaji pertama yang didapatkan.

Salam I AM Community,

 I AM Smart.

I AM Capable!