Eksplorasi Profesi dalam Bisnis Properti

Hi, Youngvestor!

Sebagai generasi muda, kita kerap kali terjebak dalam kebingungan untuk memilih profesi. Dokter, guru, dan polisi menjadi sebagian kecil impian yang seringkali dibayangkan. Namun, banyak dari kita tidak menyadari adanya peluang yang lebih besar dalam memilih profesi yang berbeda. Jika sebelumnya Mintor telah membahas mengenai keuntungan berinvestasi properti di usia muda, sekarang kita akan melihat bisnis properti dari  sudut pandang yang berbeda.

Yup, benar, profesi!

Profesi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus. Pertanyaannya, profesi seperti apa yang melibatkan bisnis properti di dalamnya? Yuk disimak infonya!

  1. Investor Properti
Sumber: www.pinterest.com

Seperti yang dijelaskan dalam Artikel ‘Investasi Properti Sejak Dini, Perlukah?’, salah satu keuntungan dalam melakukan pembelian properti adalah modal investasi. Dalam hal ini, Youngvestor dapat menjadi seorang investor properti dan mendapat keuntungan dengan menyewakan properti tersebut. Keuntungan yang didapat berasal dari cash flow per bulan atau melalui peningkatan ekuitas dari penjualan properti.

  1. Flip Properti
Sumber: www.pinterest.com

Flip properti dilakukan dengan melakukan pembelian bangunan overcredit dengan harga murah. Bangunan ini kemudian akan direnovasi dan flipper akan melakukan penjualan dengan harga yang jauh lebih tinggi. Dalam beberapa kasus, bangunan hanya dijual dengan harga yang sedikit lebih tinggi tanpa renovasi. Berbeda dengan investasi properti, flipper hanya mendapat keuntungan melalui penjualan properti.

  1. Pengelola Properti
Sumber: www.pinterest.com

Profesi pengelola properti memberikan kesempatan bagi Youngvestor yang tertarik, namun tidak memiliki properti. Dalam praktiknya, pengelola properti akan bekerja sama dengan para pemilik untuk melakukan pemeliharaan (upkeep) terhadap properti. Profesi ini menghasilkan keuntungan melalui pembagian keuntungan sewa atau melalui pembayaran terkait pemeliharaan properti.

  1. Bird Dogs
Sumber: www.pinterest.com

Bird dog merupakan istilah yang merujuk kepada orang yang mampu menemukan potensi investasi terbaik dalam properti. Profesi ini dibutuhkan sebagai pendukung investor dalam menemukan prospek bisnis. Profesi ini menghasilkan uang melalui persentase penjualan sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak ataupun berupa pembayaran jasa dalam menemukan prospek bisnis properti.

  1. Agen Properti
Sumber: www.pinterest.com

Agen properti merupakan orang yang bertugas menjadi perantara antara investor dengan pembeli, maupun penjual. Agen properti bertugas menengahi transaksi jual beli sebagai upaya untuk memudahkan penjualan properti. Dalam dunia bisnis, agen properti terbagi atas agen perseorangan dan agen perusahaan. Berbeda dengan profesi lainnya, agen properti merupakan agen-agen bersertifikat yang memiliki pengalaman dalam transaksi jual-beli properti.

  1. Fotografer Properti
Sumber: www.pinterest.com

Terjun dalam bisnis properti tidak berarti harus berkecimpung dalam pembelian bangunan. Profesi yang satu ini memberikan kesempatan bagi Youngvestor yang tertarik dalam dunia fotografi. Fotografer properti melakukan pekerjaannya dengan memotret setiap sudut bangunan, yang kemudian akan dipajang pada website penjualan. Keuntungannya akan didapat melalui penggunaan jasa fotografi sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Wah, ternyata banyak pilihan profesi yang bisa Youngvestor pertimbangkan, nih. Dengan berbagai profesi di atas, kira-kira Youngvestor tertarik dengan yang mana? Yuk, komen di bawah!

Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi Youngvestor. Jangan lupa untuk bagikan artikel dengan Youngvestor lainnya dan sampai ketemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Buat Kamu yang Ingin Jadi Crazy Rich, Tiru Cara Sukses Bisnis Menggunakan SMARTER!

Sumber: Freepik – Success Images

Halo, Youngvestors!

SMARTER merupakan singkatan dari specific, measurable, achievable, result oriented, time frame, expressed positively, dan recorded and reviewed. Singkatan dari beberapa hal penting untuk business goals ini diperoleh oleh Coach Yohanes G. Pauly yang merupakan peringkat no. 1 business coach terbaik tingkat dunia di Top 100 Business Coach in the world dan pemenang Business Coach of the Year pada Coaches Choice Award sedunia di Spanyol.

Menjadi business coaching yang telah sukses, Yohanes ternyata terlahir dari keluarga yang tidak mapan. Hal tersebut yang membuat Yohanes menjadi salesman untuk membantu bisnis kedua orang tuanya dari sejak kecil. Perjalanan hidup yang berliku-liku telah Yohanes hadapi namun tidak membuatnya menyerah untuk berusaha lebih keras. Luar biasanya, Yohanes berhasil meningkatkan penjualan 350% hanya dalam waktu 1 tahun saat memegang posisi sebagai Senior Brand Manager Ice Cream Wall’s! Berikut adalah cara bisnis dari Yohanes melalui SMARTER.

Sumber: Freepik – Premium Vector

1. Specific:

Kita membutuhkan target spesifik yang dapat kita gunakan untuk lebih berfokus dalam menjalankan bisnis. Target secara umum hanya akan membuat rancu dalam mencapai tujuan bisnis kita. Memiliki target yang spesifik juga akan membuat kita lebih mudah dalam menjalankan bisnis karena jelas dalam menilai dan mengevaluasi target tersebut. Apalagi jika kita memiliki produk yang bervariasi, tentu akan wajib jika kita memiliki target pada setiap varian. Spesifik tidak hanya dalam target berapa produk yang terjual, namun bisa juga siapa pelanggan kita atau kenapa mereka harus membeli produk yang kita tawarkan agar tercipta diferensiasi produk kita dengan yang lain.

Sumber: Freepik – Measurable Vector Art & Graphics

2. Measurable:

Kedua adalah mengenai target yang harus dapat diukur. Disini kita belajar bahwa disamping target yang spesifik, target memiliki angka sebagai skala ukur target agar dapat diketahui tercapai atau tidaknya sebuah target tersebut. Misalnya saja, kita tidak bisa hanya berbicara bahwa dalam 1 bulan saya ingin untuk berhasil menjual sebanyak-banyaknya. Sama halnya dengan poin pertama, kita harus menggunakan angka agar lebih terlihat jelas dan dapat diukur misalnya dalam 1 bulan ini produk A harus terjual 100 buah. Dalam contoh ini yang dapat diukur adalah jangka waktu yaitu 1 bulan dan produk yang harus terjual yaitu 100 buah.

Sumber: Freepik – Free Illustration Vectors

3. Achievable:

Menentukan target tidak hanya melihat berapa banyak produk atau jasa yang dapat kita jual, melainkan harus memikirkan apakah target tersebut masuk akal atau tidak untuk dicapai. Target yang kita miliki harus bersifat realistis sehingga menjadikan kita yang melakukan lebih menjadi optimis dalam mencapainya. Selain itu, kita harus memikirkan apa saja faktor yang kita butuhkan dalam target tersebut. Karena jika dalam mencapai target kita mengalami kekurangan sumber daya atau keterampilan yang terbatas tentu akan menjadi hambatan yang besar.

Sumber: Freepik – Success Illustration Images

4. Result-Oriented:

Coach Yohanes G. Pauly berkata “Meskipun strategi yang dilakukan berbeda dengan apa yang dibuat di awal, fokus utama kita adalah untuk mencapai target”. Melalui perkataannya, kita dapat belajar dan memahami bahwa setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda dan unik. Melalui caranya tersendiri, setiap orang berhak melakukan segala strategi yang benar hingga mencapai targetnya. Misalnya saja jika pada awalnya Mintor telah menetapkan ingin belajar tanpa harus mendengarkan musik namun ternyata tidak mendapatkan hasil yang maksimal, maka Mintor dapat mengubah strategi semula menjadi strategi yang baru dengan menyesuaikan situasi dan kondisi. Karena yang terpenting adalah target Mintor tercapai dalam belajar untuk mendapatkan nilai yang baik.

Sumber: Freepik – Time Management Illustration

5. Time Frame:

Dalam mencapai tujuan bisnis, kita membutuhkan penetapan tanggal sasaran. Jangka waktu tersebut dapat berupa jangka waktu yang pendek maupun panjang tergantung kebutuhan dari kita dalam menjalankan sebuah bisnis. Yang perlu diperhatikan adalah berpikir realistis namun juga fleksibel dalam mencapai tujuan. Karena mencapai tujuan yang terlalu cepat pun belum tentu akan memberikan manfaat pada keseluruhan bisnis atau orang yang bekerja dengan kita.

Sumber: Freepik – Teamwork Images

6. Expressed Positively:

Pada poin ini, kita belajar bahwa perlu untuk menjadikan target bukan sebuah tekanan namun menjadi penyemangat dan pemicu untuk kita dapat lebih berjuang lebih keras lagi. Jika kita memilih untuk memandang target sebuah beban, tentu akan terus menerus membuat kita tidak enjoy dalam melakukannya bahkan tidak semangat yang akan berdampak pada tim bisnis. Siapa juga yang ingin bekerja dengan beban dan tidak enjoy? Pasti semuanya ingin menghasilkan hal yang positif, bukan? Maka dari itu, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri untuk memberikan semangat dengan rekan bisnis kita.

Sumber: Freepik – Reviewed Images

7. Recorded & Reviewed:

Poin terakhir adalah dengan mencatat target dan evaluasi setiap periode untuk mengetahui progress dari setiap apa yang kita telah kerjakan. Melalui hal tersebut, kita juga akan melihat bagaimana pergerakan bisnis kita maju, tak bergerak, atau bahkan mengalami kemunduran. Tentu jika kita memiliki hasil maju, kita akan dapat terus berjuang untuk mempertahankan kemajuan tersebut, jika tak bergerak setidaknya kita dapat bertahan dan kuat namun tetap harus memiliki motivasi untuk terus maju. Jika mengalami kemunduran, kita juga dapat tetap semangat dan berpikir positif bahwa kemunduran tersebut tidak akan berlangsung selamanya.

SMARTER merupakan 7 poin wajib demi mencapai tujuan dalam bisnis kita. Poin yang ada di atas tentu akan membantu kita dalam memastikan kejelasan dan fokus dari proses kita menetapkan tujuan. SMARTER ini juga mudah diingat dan dipahami oleh setiap orang. Yang terpenting juga kita tidak perlu biaya yang mahal juga untuk menentukan beberapa poin ini. Apakah Youngvestors sudah siap merangka SMARTER untuk bisnis yang lebih baik?

Salam I AM Community,
I AM Smart.
I AM Capable!

Dilema Milenial: Pilih Bekerja Sesuai Passion atau Peluang?

Dunia karier dan pekerjaan selalu menjadi tantangan baru bagi setiap orang, khususnya bagi milenial lulusan baru. Banyak di antara mereka yang ingin bekerja sesuai dengan minat dan bakatnya, namun ada juga yang memilih pekerjaan sesuai dengan peluang yang ada. Hingga akhirnya muncul istilah passion versus reality.

Memilih pekerjaan memang menjadi hal yang riskan dan tidak semua orang berhasil mendapatkan itu. Kalau kamu kuliah jurusan Ekonomi tapi passion kamu di bidang musik, mana yang kamu pilih? Atau ketika kamu punya passion di bidang ilmu hukum dan politik, namun bertolak belakang dengan peluang yang ada, yakni bekerja sebagai pegawai bank, kesempatan mana yang akan kamu ambil?

Tentu situasi seperti ini menjadi dilematis ketika dirasakan secara langsung. Beberapa memilih mengorbankan passion dan akhirnya bekerja di sebuah perusahaan yang menerimanya sesuai dengan kebutuhan tersebut. Sementara ada juga yang beruntung mendapatkan pekerjaan sesuai dengan minatnya.

Apakah kamu termasuk salah satu milenial yang masih memiliki keraguan terkait pilihan karier yang kamu inginkan? Yuk, simak pendapat beberapa milenial berikut ini!

1. Refa Immanuel: “Butuh Pekerjaan yang Sesuai dengan Passion Aku”

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pada kesempatan ini, Mintor berbincang dengan beberapa generasi milenial. Ketika ditanyakan mengenai pilihannya dalam berkarier, tidak jarang dari mereka yang mengaku masih bimbang dan tidak bisa memilih antara bekerja sesuai passion atau mengikuti peluang yang terbuka.

Seperti Refa Immanuel Walukow, pemilik bisnis clothing brand yang akrab disapa Refa. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Communication & Business Institute di salah satu Universitas di Jakarta. Saat ini Refa belum mendapatkan pekerjaan meskipun sudah melamar di berbagai perusahaan. “Jadi, untuk mengisi waktu yang ada, aku membangun bisnis yaitu bisnis yang sesuai dengan passion aku di bidang clothing brand,” ujarnya.

Ketika ditanya soal pilihan karier yang akan dijalankan, Refa mengaku bahwa dirinya masih dilematis untuk memilihnya. “Di satu sisi, aku sedang bekerja sesuai dengan passion aku. Namun, aku juga membutuhkan pekerjaan di bidang komunikasi atau kerja kantoran untuk meningkatkan skill atau pengalaman agar bisa kuterapkan di bisnis aku,” ungkapnya.

Hingga saat ini, iapun lebih memprioritaskan bisnis yang sedang dijalankan tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk tetap mencari pekerjaan yang bisa mendorong bisnisnya agar semakin berkembang.

2. Fathimatufz Zahra: “Lebih Banyak Orang Bekerja Sesuai Peluang yang Ada”

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berbeda dengan Refa, karyawan berusia 22 Tahun asal Bogor bernama Fathimatufz Zahra mengatakan bahwa dirinya lebih memilih bekerja sesuai dengan peluang yang ada.  Setelah Fathima terjun ke dunia kerja, dia menilai, lebih banyak seseorang yang bekerja sesuai dengan peluang. “Misalnya, kamu lulusan teknik, tapi lebih banyak peluang pekerjaan di bidang Public Relation tahun ini. Kamu boleh saja mencoba pekerjaan tersebut asalkan tugas-tugasnya masih bisa dihandle,” jelasnya.

Fathima menambahkan, sangat penting bagi kamu dari jurusan apapun agar sebisa mungkin menguasai kemampuan di luar bidang yang kamu kuasai. Hal tersebut karena pekerjaan yang tersedia mengikuti peluang atau perkembangan kebutuhan tenaga kerja yang ada. Jadi, akan lebih bagus bagi kamu dalam menjalani pekerjaan apapun karena setidaknya kamu mempunyai pengalaman atau minimal ada basic sedikit.

Di samping itu, menurut Fathima, walaupun di luar sana banyak orang yang pada kenyataannya mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar pendidikan yang ditempuh. Namun, pendidikan tetaplah sangat penting karena pendidikan bisa merubah pola pikir menjadi lebih ilmiah, terstruktur, open minded, dan lebih matang.

3. Meisy: “Semua Milenial Ingin Bekerja Sesuai Passion Tapi Belum Tentu Punya Peluang di Sana”

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kendati menikmati pekerjaannya saat ini, Meisy yang bekerja sebagai pengajar dalam bidang seni tari di sebuah sanggar, ia mengaku masih ingin bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh. “Kalau di suruh pilih, aku nggak bisa milih karena aku ingin bekerja sesuai passion tapi aku juga nggak mau meninggalkan pendidikan aku, nggak mau jadi sia-sia,” katanya.

Meisy yang juga merupakan freshgraduate lulusan Public Relation ini menyatakan bahwa belum tentu kita memiliki peluang dalam pekerjaan yang sesuai dengan passion yang kita punya. Yang paling penting menurut Meisy adalah peluang. “Jadi percuma kalau kamu punya peluang tapi kamu nggak punya skill dan percuma juga kalau kamu punya skill tapi kamu tidak punya peluang”, sambungnya.

Lebih lanjut, Meisy menjelaskan bahwa peluang itu tidak bisa kamu ambil begitu saja. Youngvestor harus melihat peluang itu dengan cermat sambil berusaha untuk improve diri sendiri. Kamu harus bisa mempersiapkan diri kamu dengan menambah maupun meningkatkan skill yang kamu miliki serta memanfaatkan peluang yang ada sebaik mungkin.

4. Zahrah Raniyah: “Bekerja Sesuai Passion Itu Akan Lebih Bagus”

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berbeda dari narasumber lainnya, Zahrah Raniyah bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan yang dia sukai. Saat ini Zahrah bekerja sebagai Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat di Kementerian Perhubungan. Selain relevan dengan latar belakang pendidikannya, pekerjaan yang ia jalani juga sesuai dengan minat dan passion dalam dirinya.

Terlepas dari hal itu, menurut Zahrah, tetap yang terpenting adalah passion. Tidak masalah bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan tapi yang penting bisa sesuai dengan passion. “Misalnya dari lingkungan saya sendiri. Bos saya dulunya lulusan Hubungan Internasional tapi sekarang menjadi seorang Humas. Sementara itu, kakak saya kuliah di jurusan kebidanan dan sekarang dia memilih untuk menjadi seorang model,” jelasnya.

Zahrah juga tidak mempermasalahkan kalau latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan pekerjaan yang dijalankan jika hal tersebut memang merupakan passion yang kamu sukai. Baginya, itu akan jauh lebih bagus. “Kita bisa menikmati proses bekerja, bisa beradaptasi dengan pekerjaan, bisa lebih semangat dan lebih fokus dalam bekerja,” tutupnya.

Banyak milenial beranggapan bahwa tidak masalah bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh. Baik itu bekerja sesuai passion ataupun peluang yang ada. Pada akhirnya, kamu bebas memilih jalanmu sendiri. Setiap pilihan tentunya juga memiliki konsekuensinya masing-masing.

Melalui paparan informasi di atas, semoga kamu bisa memilih dengan lebih bijak ya, Youngvestor! Jika kamu mengerjakan sesuatu dengan hati yang senang, paling tidak kamu puas dengan apa yang kamu lakukan dan bisa merasa bangga dengan dirimu sendiri. Hal tersebut merupakan hal terpenting yang bisa kamu pegang untuk ke depannya.