Hidup Sebagai Generasi Sandwich

Istilah “generasi sandwich” mulai dibicarakan banyak orang belakangan ini. Memangnya apa itu generasi sandwich? Sesuai namanya, sandwich, yang artinya roti lapis. Dalam generasi ini, seseorang harus hidup di antara lapisan dua generasi, yaitu orang tua dan anaknya. Artinya saat kita sudah menikah dan punya anak, tetapi masih harus menanggung kehidupan orang tua.

Tanpa disadari, generasi sandwich sudah menjadi tradisi dan terus turun menurun hingga saat ini. Umumnya hal ini disebabkan karena minimnya literasi dan pengetahuan generasi sebelumnya tentang keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada tahun 2019, menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia baru 38,03%.

Sumber: unplash.com

Sebagai generasi sandwich yang hidup dalam banyak tanggungan dari banyak pihak, pasti ada tantangannya. Apa sajakah itu? Simak penjelasannya berikut ini.

  1. Menyebabkan stres

Stres adalah salah satu masalah yang paling sering muncul. Bagaimana tidak? Sepasang suami istri kerap berkonflik dalam menentukan prioritas. Apakah keluarga inti atau orang tuanya?

Biasanya generasi sandwich akan pusing sendiri dalam mewujudkan permintaan yang datang dari orang tua maupun anak dan pasangan. Ditambah lagi, bagi generasi sandwich yang masih dalam usia produktif, mereka mempunyai banyak target yang hanya menambah beban pikirannya.

  1. Khawatir dengan masa depannya

Seorang generasi sandwich tidak akan jauh dari khawatir akan masa depannya. Masa depan orang tua serta anak dan pasangannya menjadi tanggung jawab yang besar. Ditambah lagi, mereka harus memikirkan solusi untuk memutus rantai generasi sandwich.

  1. Banyak hambatan dalam memulai investasi

Menurut survei dari KataData, saat ini mayoritas generasi sandwich sedang mengalami situasi keuangan yang lebih berat diakibatkan situasi pandemi. Ditambah lagi mereka harus menanggung kebutuhan banyak pihak. Sebenarnya para generasi sandwich ini sadar akan investasi, tetapi ada kebutuhan keluarga yang harus menunda hal tersebut.

Nah, agar Youngvestors tidak terjebak dalam generasi sandwich, pastinya ada hal-hal yang dapat dilakukan. Tidak usah lama-lama lagi, yuk ikuti ulasannya!

  1. Memiliki komunikasi yang terbuka terhadap pasangan dan keluarga

Terbuka terhadap pasangan dan keluarga sangatlah penting. Tujuannya agar kita tidak pusing memikirkan semua masalah sendiri. Mulailah berdiskusi mengenai kondisi keuangan sampai membuat mereka paham akan beban keuangan yang sedang dipikul. Diharapkan pasangan dan keluarga kita bisa lebih memahami kondisi yang ada.

  1. Mengubah mindset

Hal ini merupakan perubahan paling mendasar. Pastikan kita mengubah mindset ke arah benar-benar ingin keluar dari jebakan generasi sandwich ini. Dari sini kita akan terdorong untuk membuat perencanaan keuangan yang lebih baik dan menyiapkan dana pensiun, sehingga nantinya kita tidak bergantung lagi pada anak dan rantai generasi sandwich pun dapat terputus.

  1. Melakukan investasi

Investasi menjadi salah satu cara paling ampuh dalam memutus rantai generasi sandwich, karena melakukan investasi dapat meningkatkan nilai aset guna mempersiapkan kondisi keuangan yang lebih baik di masa depan. Lebih baik lagi jika kita berinvestasi sembari menyiapkan dana darurat dan dana pensiun.

Hidup sebagai generasi sandwich memang tidak mudah. Kita harus bekerja keras demi mendapatkan pemasukan, di sisi lain kita juga harus bertanggung jawab secara emosional maupun finansial terhadap orang tua serta pasangan dan anak. Maka dari itu, semoga artikel dari Mintor ini dapat membantu Youngvestors yang masih terjebak dalam generasi sandwich. Follow juga Instagram @i_amcommunity untuk konten menarik lainnya ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber referensi:

https://ilovelife.co.id/blog/mengapa-kamu-perlu-menjadi-generasi-sandwich-yang-lebih-baik/?utm_source=SEM&utm_medium=sem-leverate&utm_campaign=blogoct2021&gclid=Cj0KCQjw8p2MBhCiARIsADDUFVExZSiRKns6kvgVDencFXCsRC5ZdPj1FR-08NQ5h54hLr_apUGIWTQaAp3cEALw_wcB

https://bisnis.tempo.co/read/1501528/enam-langkah-memutus-rantai-generasi-sandwich

Kakeibo, Seni Mengatur Uang Ala Jepang Yang Efektif

Hai Youngvestors! Apakah kalian pernah mendengar istilah “Kakeibo”? Mungkin istilah ini masih terdengar asing di telinga banyak orang. Namun, saat sudah mengerti dan melakukannya, Kakeibo ini sangat membantu kita dalam mengatur keuangan loh! Kakeibo sendiri merupakan suatu seni mengatur uang ala Jepang. Menurut  Moneycrasher, Kakeibo adalah suatu cara untuk melakukan pencatatan keuangan secara manual untuk mencapai tujuan keuangan.

Sepertinya metode ini akan menimbulkan kontra, seperti “Untuk apa mencatat keuangan secara manual kalau sudah ada teknologi yang memudahkan?”. Nah, menurut CNBC, mencatat secara manual termasuk rencana keuangan yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk dicapai. Mengapa? Dengan menulis sendiri, secara tidak sadar kita akan terbiasa untuk lebih mempertimbangkan pengeluaran demi mencapai suatu tujuan keuangan.

Sumber: pexels.com

Tertarik untuk menerapkan Kakeibo ini? Apa saja sih yang harus dilakukan untuk memulainya? Yuk simak ulasannya!

  1. Membuat catatan sejak awal bulan

Untuk mulai menerapkan Kakeibo, buatlah catatan keuangan sejak awal bulan. Dalam tahapan yang pertama ini, kita membutuhkan informasi mengenai berapa pemasukan kita pada bulan tersebut.

Setelah itu, membuat prediksi perkiraan tentang pengeluarannya. Pengeluaran yang dimaksud dalam hal ini adalah pengeluaran yang pasti, seperti membeli kebutuhan pokok, membayar cicilan, dan sebagainya. Dengan membuat catatan ini, kita akan mengetahui berapa jumlah uang yang masih tersisa.

  1. Mencatat secara rinci

Tahapan ini berkaitan dengan poin yang pertama. Tentunya untuk melakukan pencatatan dalam pembukuan, kita harus mencatatnya secara rinci. Mulai dari harian sampai tahunan, sehingga saat membutuhkan informasinya akan mudah untuk didapatkan.

Jika Youngvestors belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran, mulailah dari sekarang kalau ingin menerapkan Kakeibo ini. Oh iya, dalam tahapan ini, Youngvestors diharapkan sudah mulai menentukan nominal yang hendak ditabung nantinya agar dapat lebih mempertimbangkan aktivitas keuangannya.

  1. Lakukan evaluasi

Melakukan evaluasi terhadap pencatatan pada akhir bulan sangat berguna untuk mengetahui apakah aktivitas keuangan yang dilakukan sudah sesuai dengan pencatatan, sehingga perencanaan keuangan di bulan depannya dapat lebih matang.

Jika semuanya sudah sesuai, berarti Youngvestors sukses dalam menerapkan metode kakeibo ini dalam kehidupan sehari-hari.

Konon, metode yang ditemukan oleh Motoko Hani pada tahun 1904 ini dapat membantu mengurangi pengeluaran sebesar 25%. Sangat bermanfaat, bukan? Sisa 25% tersebut, bisa Youngvestors gunakan untuk berinvestasi, dana darurat, atau hal lainnya. Hingga saat ini, metode tersebut masih banyak diterapkan oleh banyak orang. Bukan hanya di Jepang saja, melainkan sampai ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alasan utamanya, banyak orang yang merasa metode ini sangat efektif dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran agar tidak berlebih.

Oke Youngvestors, sekian artikel dari Mintor. Semoga dapat membantu ya! Yuk follow juga Instagram @i_amcommunity!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber referensi:

https://www.ruangmom.com/cara-menabung-kakeibo.html

https://glints.com/id/lowongan/kakeibo-adalah/

5 Cara Mencapai Financial Freedom Sejak Dini

”Uang tidak bisa membeli kebahagiaan”, apakah Youngvestors setuju dengan pernyataan tersebut? Kalau Mintor tidak setuju, nyatanya keuangan yang baik akan memberi kita kehidupan yang lebih baik juga. Bahkan menurut tanggapan dari 450.000 orang Amerika yang disurvei oleh Gallup & Healthways pada tahun 2008 dan 2009, menyatakan bahwa semakin rendah pendapatan seseorang, maka semakin tidak bahagia hidupnya.

Maka mencapai financial freedom tentunya dambaan semua orang, bukan? Financial freedom sendiri adalah kondisi di saat seseorang mencapai kebebasan finansial, yang berarti kita tidak perlu lagi bekerja karena sudah ada kekayaan dan aset yang bisa membiayai semua kebutuhan sehari-hari. Bagi orang yang sudah mencapai financial freedom, asetnya pun memiliki nilai yang lebih tinggi dari kebutuhan sehari-harinya.

Nah, bagaimana sih cara mencapai financial freedom? Yuk simak penjelasan dari Mintor!

Sumber: unplash.com

  1. Pahami kondisi finansial kita sekarang

Mencapai financial freedom tidak dilihat dari seberapa besar pendapatan kita perbulannya, yang penting semua pendapatan dan aset kita sudah mampu menutupi semua pengeluaran sehari-hari. Bila tidak, berarti belum mencapai financial freedom. Maka dari itu, kita harus membuat perhitungan tentang berapa pendapatan yang seharusnya dimiliki agar mencapai financial freedom.

  1. Mempunyai sumber pendapatan lain

Untuk mempunyai pendapatan yang bisa menutupi semua pengeluaran, tentunya butuh pendapatan yang cukup besar. Salah satu caranya adalah mempunyai sumber pendapatan lain. Cara ini sangat efektif, di mana pendapatan utama bisa untuk membayar kebutuhan pokok, sedangkan pendapatan lainnya bisa untuk menabung dan membeli aset.

Langkah paling populer dalam mencari sumber pendapatan lain adalah dengan berbisnis. Memulai suatu bisnis tidak selalu memerlukan modal yang besar, bahkan ada bisnis yang tanpa modal, seperti menjadi dropshipper, freelancer, dan sebagainya. Langkah yang kedua, kita bisa membangun passive income dengan memanfaatkan media internet, salah satu contohnya adalah membuat blog. Untuk lebih lengkap tentang cara membangun passive income, Youngvestors bisa membaca di artikel sebelumnya ya!

  1. Melakukan investasi

Berapa banyak pun uang yang kita miliki saat ini, tidak akan sama lagi nilainya di masa depan, karena ada yang namanya inflasi. Maka dari itu, Youngvestors sangat wajib untuk melakukan investasi. Selain melawan inflasi, investasi juga bisa menjadi salah satu alat kita untuk mencapai financial freedom, karena dalam investasi ada yang namanya compounding interest, yaitu uang kita akan terus bunga berbunga seiring berjalannya waktu. Jadi semakin cepat memulai investasi akan semakin baik.

  1. Melunasi semua hutang

Untuk  memiliki kebebasan secara finansial, tentunya kita tidak boleh mempunyai hutang lagi, apalagi dengan nilai besar. Jika masih ada, upayakan untuk segera melunasinya. Lebih baik lagi jika nilai dari aset kita bisa melunasinya.

  1. Tentukan tujuan keuangan

Menentukan tujuan keuangan sangat berguna untuk kita membuat strategi perencanaan keuangan, sehingga setiap pengeluaran dapat lebih teratur.

Selain itu, pengertian financial freedom bagi setiap orang juga berbeda, ada yang merasa mencapainya saat bisa travelling ke luar negeri setiap bulan tanpa khawatir atau sudah memiliki dana pensiun yang cukup. Dengan hal ini, kita bisa lebih mudah dalam menentukan cara yang tepat untuk mencapainya.

Itulah 5 cara dari Mintor untuk mencapai financial freedom sejak dini. Apakah Youngvestors punya cara lain untuk mencapai financial freedom? Yuk bagikan caramu di kolom komentar di bawah! Jangan lupa untuk baca artikel lainnya dan follow Instagram @i_amcommunity ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber referensi:

https://koinworks.com/blog/cara-mencapai-financial-freedom/

https://www.ekrut.com/media/financial-freedom-adalah

Investasi Di Reksadana Bikin Cepat Kaya?

Investasi adalah aktivitas menyimpan uang pada suatu instrumen yang diharapkan dapat memberi keuntungan pada jangka waktu tertentu. Beberapa instrumen investasi yang paling terkenal di Indonesia adalah reksadana, deposito, saham, emas, properti, dan peer-to-peer lending. Nah dalam artikel kali ini, Mintor akan membahas lebih dalam mengenai reksadana.

Mengapa reksadana? Saat ini reksadana menjadi instrumen investasi yang banyak diminati masyarakat, terutama generasi milenial.

Sumber: unplash.com

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002), reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Sederhananya, reksadana merupakan kumpulan produk keuangan yang dikelola oleh manajer investasi.

Reksadana ini sangat cocok untuk orang-orang yang sangat sibuk bekerja atau tidak sempat menganalisis dan mengikuti berita, karena dalam reksadana, kita mempercayai seseorang untuk mengatur dan mengelola uang yang kita ‘titipkan’, orang itu disebut sebagai manajer investasi.

Namun apa saja sih kelebihan dari reksadana ini? Yuk kita bahas!

  1. Modalnya yang sangat kecil

Bagi orang yang mengatakan bahwa investasi butuh modal yang besar, jelas itu hoax. Buktinya Youngvestors bisa mulai investasi di reksadana mulai dari Rp10.000. Modal yang kecil ini menjadi salah satu keunggulan paling menonjol yang dimiliki reksadana.

  1. Risiko yang rendah

Umumnya, manajer investasi yang mengelola uang kita ini melakukan diversifikasi pada beberapa produk keuangan. Hal ini membuat reksadana memiliki kelebihan yaitu risikonya yang rendah. Diversifikasinya ke mana saja? Tergantung pada jenis reksadana yang kita pilih.

  1. Dikelola oleh manajer investasi

Seperti yang Mintor katakan tadi, uang yang kita simpan dalam reksadana itu dikelola oleh profesional yang disebut manajer investasi. Ibaratnya kita mempercayakan uang kita pada seseorang dan tinggal menunggu hasilnya.

Semua instrumen investasi tentunya tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, dengan mengenal kekurangannya, setidaknya dapat menyesuaikan dengan perencanaan keuangan kita. Maka dari itu, yuk kita pelajari!

  1. Biaya tambahan

Biaya ini biasa disebut management fee yang sudah termasuk biaya pengelola, biaya operasional, biaya administrasi, dan sebagainya.Namun bagi Mintor, kekurangan yang satu ini sangat wajar, karena kita hanya ‘duduk manis’ saja untuk mendapatkan keuntungan.

  1. Salah memilih manajer investasi

Sebelum mempercayakan uang kita pada manajer investasi di reksadana, sangat dianjurkan agar kita memilih manajer investasi yang tepat, karena jika kita salah memilih, bukan tidak mungkin uang kita malah berkurang atau rugi.

  1. Return yang lebih rendah dari saham

Sebagai instrumen investasi yang rendah risiko, pastinya juga memiliki return yang lebih kecil dari instrumen lainnya, terutama saham. Meskipun begitu, return dari reksadana ini tetap sangat menarik.

Setelah mengetahui kelebihan dan kekurangannya, diharapkan Youngvestors jadi lebih kenal dengan reksadana ya! Oh iya, reksadana itu juga banyak loh jenisnya, mari simak bahasan dari Mintor.

  1. Reksadana saham

Sesuai namanya, reksadana ini paling banyak alokasinya di saham. Di kaca mata pemula, reksadana satu ini pasti sangat menggiurkan, karena mampu memberikan return sampai 18% per tahunnya. Akan tetapi, kita harus tahu juga, reksadana saham ini tidak terus naik nilainya, bukan tidak mungkin dalam waktu satu tahun, uang kita malah berkurang. Maka dari itu, reksadana saham sangat cocok untuk investasi jangka panjang.

  1. Reksadana pasar uang

Reksadana pasar uang berisi dana tunai dan obligasi yang membuatnya minim risiko, namun tetap memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan deposito. Nilainya yang selalu naik membuat reksadana ini mampu dimanfaatkan menjadi dana darurat. Reksadana ini sangat cocok untuk investor jangka pendek.

  1. Reksadana pendapatan tetap

Reksadana ini paling banyak berisi produk surat utang atau obligasi, di mana obligasi sendiri mampu memberikan bunga secara tetap yang membuat reksadana ini disebut sebagai pendapatan tetap. Nilainya dapat naik dan turun, performanya ini tergantung pada suku bunga dan mata uang. Maka reksadana ini dapat digunakan untuk investasi jangka menengah.

  1. Reksadana campuran

Nama reksadana ini menggambarkan dirinya sendiri, karena reksadana ini memang terdiri dari campuran bermacam produk, yakni saham, obligasi, dan pasar uang. Reksadana campuran memiliki return yang tidak tentu karena nilainya yang selalu naik dan turun. Bagi investor jangka menengah hingga panjang, boleh banget memilih reksadana ini.

  1. Reksadana indeks

Sebagai manajer investasi, ada saatnya melakukan kesalahan atau human error yang dapat merugikan investor. Nah hal ini dapat dihindari dengan berinvestasi di reksadana indeks, karena nilai dan performa dari reksadana ini mengikuti pergerakan indeks. Indeks yang diikuti biasanya dari pasar obligasi dan saham. Karena mengikuti indeks, membuat reksadana ini tidak mampu memberikan return yang pasti sehingga sangat cocok untuk investasi jangka panjang.

Untuk membeli reksadana, sangat penting juga untuk mengetahui cara memilih yang paling cocok bagi kita. Nih Mintor kasih tipsnya ya!

  1. Pilih manajer investasi yang tepat

Kita sebagai investor pasti hanya mau mempercayakan uang ke manajer investasi yang paling aman dan terpercaya. Nah hal ini bisa dilihat dari daftar  Top 20 Assets Under Management (AUM). Sederhananya AUM adalah total nilai aset investor yang sedang dikelola oleh manajer investasi. Jadi otomatis semakin banyak total AUMnya, semakin banyak yang percaya.

  1. Pilih reksadana sesuai tujuan keuangan

Bagi Youngvestors yang ingin investasi untuk jangka pendek sangat dianjurkan reksadana pasar uang, untuk jangka menengah reksadana pendapatan tetap, dan untuk jangka panjang bisa reksadana saham, campuran, dan indeks. Misalnya Youngvestors ingin membeli handphone 5 bulan lagi, maka pilihlah reksadana pasar uang.

  1. Pilihlah biaya manajemen yang paling rendah

Semua investor pasti biaya manajemen yang tinggi dalam berinvestasi, karena akan sangat merugikan jika return yang sudah kita dapatkan terpotong biaya. Oleh karena itu, pertimbangkanlah biaya manajemen sebelum membeli sebuah produk reksadana.

Setelah membaca artikel ini, bagaimana menurut Youngvestors? Apakah investasi di reksadana bisa bikin cepat kaya? Perlu diingat ya, bahwa semua instrumen investasi itu untuk memenuhi tujuan keuangan kita, bukan menjadi cepat kaya.

Oke Youngvestors, sekian ulasan lengkap mengenai reksadana. Nantikan konten menarik dan bermanfaat lainnya di Instagram @i_amcommunity ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber Referensi:
https://berkeluarga.id/2020/10/22/kelebihan-dan-kekurangan-investasi-reksadana/
https://reliance-investasi.com/?p=692
https://link.bahanatcw.com/reksa-dana-article?id=2
https://www.hsbc.co.id/1/PA_esf-ca-app-content/content/indonesia/personal/offers/news-and-lifestyle/files/articles/html/201906/jenis-jenis-investasi-yang-populer-di-indonesia.html

Mau Membangun Passive Income Sejak Muda? Lakukan 7 Hal Ini!

Mungkin Youngvestors pernah berpikir, kenapa orang seperti Elon Musk dan Jeff Bezos bisa menjadi orang terkaya di dunia? Nah jawabannya adalah karena mereka memiliki passive income. Passive income adalah pendapatan yang dihasilkan secara tidak langsung. Ibaratnya kita terus menghasilkan pendapatan walaupun sedang tidur.

Dengan memiliki passive income yang bagus, kita bisa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita, sehingga tidak perlu lagi pusing memikirkan tagihan untuk kebutuhan pokok dan lainnya. Sementara itu, active income yang kita hasilkan dari bekerja bisa digunakan untuk hal lainnya, seperti memenuhi kebutuhan hiburan.

Sumber: unplash.com

Bagi Youngvestors yang ingin membangun passive income sejak muda, pas banget nih, Mintor akan memberikan caranya untuk kalian. Yuk kita bahas!

  1. Membuat Sebuah Blog

Cara pertama ini merupakan salah satu cara paling populer yang dilakukan banyak orang untuk membangun passive income. Modal untuk memulainya bisa dikatakan kecil, karena hanya perlu membeli nama domain dan membayar hosting. Setelah itu kita hanya butuh konsisten membuat konten yang menarik. Agar tidak sulit, mulailah dari topik yang disukai, misalnya kita tertarik pada kuliner, maka buatlah konten tentang kuliner. Saat blognya sudah ramai, bisa kita manfaatkan dengan memasang iklan.

  1. Mengikuti Affiliate Marketing

Cara ini berhubungan dengan cara yang pertama, setelah mempunyai situs blog yang ramai, bisa kita manfaatkan juga untuk affiliate marketing. Affiliate marketing atau pemasaran afiliasi merupakan sistem untuk mempromosikan produk atau layanan yang jika ada sebuah pembelian maka kita mendapatkan komisi dari pembelian tersebut. Jika blog kita relevan dengan produk atau layanan yang sedang dipromosikan akan mempermudah kegiatan affiliate marketing yang dilakukan.

  1. Membuat Konten di Youtube

Untuk membuat Youtube kita bisa dimonetisasi, membutuhkan perjuangan yang cukup susah, karena ada target tertentu yang harus dicapai. Akan tetapi, saat kita sudah konsisten dan mempunyai audiens yang ramai, setiap video dan iklan yang dipasang bisa dimanfaatkan untuk menjadi passive income.

  1. Melakukan Investasi

Kita bisa memanfaatkan keuntungan dari investasi sebagai passive income, contohnya bagi investor saham bisa mengambil dividen dan capital gain. Instrumen investasi yang dipilih harus disesuaikan dengan profil risiko kita masing-masing. Setelah berinvestasi, jangan lupa lakukan diversifikasi, yaitu menempatkan dananya pada beberapa instrumen agar terhindar dari potensi kerugian.

  1. Menyewakan Properti

Sebelumnya kita memang harus memiliki properti dahulu seperti apartemen dan hal ini membutuhkan modal yang besar. Namun aset ini akan memberikan passive income yang sangat menarik di kemudian hari. Bahkan harga properti yang naik terus juga bisa digunakan untuk investasi saat kita menjualnya di masa depan.

  1. Bisnis Kos-kosan

Hampir sama dengan cara yang sebelumnya, namun kita bisa menyewanya per kamar. Bisnis ini sangat menarik untuk dijadikan passive income saat sudah berjalan. Misalnya kita menyewakan 10 kamar kos dengan harga Rp1.000.000 per bulan, maka setiap bulannya kita akan menerima omzet Rp10.000.000 tanpa harus bekerja.

  1. Menjual Karya Kreatif

Bagi Youngvestors yang mempunyai bakat di bidang kreatif seperti menyanyi, menulis dan sebagainya, bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mendapatkan royalti. Sederhananya orang lain akan membayar kita untuk menggunakan karya kreatif kita tersebut.

Setelah mengetahui beberapa cara tersebut, pilihlah cara yang paling nyaman untuk dijalankan. Bagi Youngvestors, mulailah membangun passive income sejak dini. Pada awalnya memang memberatkan, namun hasilnya akan sangat indah pada waktunya.

Oke Youngvestors, sekian artikel dari Mintor mengenai cara membangun passive income terutama bagi anak muda. Tidak ingin ketinggalan konten menarik lainnya? Follow Instagram @i_amcommunity ya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber referensi:
https://koinworks.com/blog/cara-menghasilkan-passive-income-dengan-mudah/
https://www.niagahoster.co.id/blog/passive-income/

Menabung Di Bank VS Menabung Di Reksadana, Mana Yang Lebih Untung?

Kegiatan menabung sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Menabung sejak dini dapat meningkatkan literasi kita mengenai keuangan. Menabung sendiri adalah kegiatan menyisihkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan masa depan atau kebutuhan mendesak. Zaman sekarang, menabung di celengan sudah sangat jarang dilakukan. Saat ini kebanyakan orang lebih memilih menabung di bank atau reksadana. Tapi apakah perbedaannya? Manakah yang lebih menguntungkan? Yuk simak artikel berikut ini!

Menabung di Bank

Sumber: freepik.com

Bank sudah menjadi tempat yang paling dikenal dan terpercaya oleh banyak orang untuk menabung. Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah orang Indonesia yang mempunyai rekening bank sudah mencapai 60%, artinya sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menabung. Maka tak heran, dari kecil kita sudah diajarkan untuk mulai menabung di bank.

Keamanan menjadi alasan utama banyak orang yang menabung di bank, apalagi dalam jumlah yang banyak. Selain itu, menabung di bank juga sudah menjamin kita terhindar dari berbagai risiko. Pada umumnya, bank akan memberikan kita hadiah sebagai nasabah yang menabung berupa bunga. Namun biasanya, bunga yang diberikan setiap tahun bahkan tidak mencapai 1%. Maka bukan tidak mungkin jika uang tabungan kita malah menurun. Mengapa bisa begitu? Salah satu kerugian dari menabung di bank adalah bank memiliki biaya administrasi yang secara otomatis akan memotong saldo rekening kita setiap bulan. Jumlah biaya administrasinya tergantung pada bank apa yang kita pilih. Tapi jangan khawatir, besarnya biaya administrasi akan tetap setiap bulannya, jadi kita dapat memperhitungkan hal tersebut dengan pasti. Oh iya, bukan hanya biaya administrasi, bank juga memiliki biaya transaksi, yaitu biaya yang dikenakan saat kita hendak mengirim sejumlah uang ke pemilik rekening di bank lain.

Menabung di Reksadana

Sumber: freepik.com

Reksadana adalah kumpulan produk keuangan yang dikelola oleh manajer investasi dan salah satu instrumen investasi yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menabung. Sebenarnya ada beberapa macam reksadana seperti reksadana pasar uang, reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, dan reksadana indeks. Akan tetapi, Mintor akan membandingkan menabung di bank dengan menabung di reksadana pasar uang.

Mengapa reksadana pasar uang? Reksadana ini bisa dikatakan yang paling ‘aman’ karena fluktuasinya cenderung rendah yang membuat performanya cukup stabil. Selain itu, reksadana pasar uang merupakan reksadana yang returnnya paling kecil, sehingga memberikan risiko yang paling minim juga. Walaupun begitu, jika dibandingkan dengan bank, reksadana pasar uang ini akan tetap terlihat sangat menarik, karena reksadana pasar uang mampu memberikan return sampai 7% per tahunnya. Keuntungan lainnya adalah kita bisa mulai menabung dari modal yang sangat kecil yaitu Rp10.000 dan pengaplikasiannya yang mudah. Untuk mulai menabung atau berinvestasi di reksadana, kita dapat membuka rekeningnya hanya dari smartphone.

Menabung di reksadana juga mempunyai biaya administrasi yang disebut management fee, sebagai biaya untuk manajer investasi yang akan mengelola uang kita. Umumnya fee tersebut hanya sebesar 0,40%-1,00% dari jumlah uang yang kita setorkan.

Sebagai instrumen investasi, tidak akan jauh dari risiko. Meski kecil kemungkinan, kita juga harus siap menghadapinya. Contoh risiko yang dapat terjadi adalah saat perputaran uang mengalami wanprestasi atau gagal bayar. Dalam hal ini, hampir pasti kita akan mengalami kerugian. Risiko yang kedua adalah nilai return yang tidak pasti. Apalagi jika produk yang kita pilih tidak tepat, maka return yang didapatkan akan semakin kecil.

Jadi bagaimana menurut Youngvestors? Lebih menguntungkan menabung di bank atau di reksadana? Bagi Mintor, jelas menabung di reksadana lebih menguntungkan, karena kita akan mendapatkan return yang jauh lebih besar daripada di bank dengan risiko yang kecil juga. Untuk Youngvestors yang tertarik dengan reksadana dapat mencobanya di aplikasi yang sudah terpercaya seperti Bibit dan Bareksa ya!

Sekian artikel dari Mintor tentang menabung di bank VS menabung di reksadana. Semoga bisa menjadi referensi bagi Youngvestors. Yuk follow Instagram @i_amcommunity agar tidak ketinggalan konten menarik lainnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Sumber referensi:
https://artikel.bibit.id/investasi1/reksa-dana-pasar-uang-vs-rekening-tabungan-mana-yang-lebih-untung
https://www.qoala.app/id/blog/keuangan/tabungan/keuntungan-menabung-di-bank/
https://xdana.com/artikel/investasi-reksadana-dan-tabungan-di-bank-mana-yang-lebih-untung/