Idealis vs. Realis: Milenial Harus Jadi Yang Mana?

Dalam beberapa kasus, Youngvestors tentu sudah tak asing dengan pertanyaan ‘kamu tipe orang yang idealis atau realis?’. Sedangkan di kesempatan lainnya, kamu mungkin menemukan orang lain menyindir pelan dengan ungkapan ‘idealisme-mu baiknya turunkan sedikit’ atau ‘makanya jadi orang yang realistis saja!’.

Namun apakah sejatinya yang menjadi pembeda antara idealis dan realis tersebut? Apakah batas yang mendasari keduanya? Dan bagaimana kedua hal tersebut mampu mengubah nasib individu dalam meniti karier?

Idealis dan realis sejatinya mengambil sudut pandang berbeda dalam melihat cara kerja dunia. Individu dengan pemikiran idealis akan memandang dunia sebagai sebuah wadah ‘seharusnya’, dimana segala sesuatu hal harus berjalan sesuai porsi dan tempatnya. Idealis akan cenderung lebih berpegang teguh pada teori dibandingkan praktis. Sebaliknya, realis memandang dunia sebagai suatu hal yang apa adanya, apa yang terlihat. Jika idealis berfokus pada teori yang diyakini sebagai hal yang seharusnya dicapai, realis cenderung menjalankan peran sebagai ‘penerima’ dan melihat fakta sebagai bentuk kebenaran.

Sumber: www.pinterest.com

Jika membahas mengenai batas antara keduanya, Youngvestors tentu akan setuju jika batas yang dibentuk merupakan sebuah batas buram yang cukup membingungkan. Pada dasarnya, ketika Youngvestors masih berpegang teguh pada cara teori memandang dunia, disitulah Youngvestors berada pada titik idealis. Di sisi lain, bukan tidak mungkin bagi individu untuk berpindah dari idealis ke realis dalam waktu tertentu. Youngvestors tentu tiba-tiba saja berubah arus dan memandang dunia dari kacamata fakta yang terlihat di depan mata. Hal tersebut bukanlah hal aneh yang langka, namun dapat dipastikan bahwa tidak ada garis yang jelas membatasi kapan individu dapat menjadi sosok idealis dan realis.

Lantas bagaimana pengaruh sudut pandang idealis dan realis dalam memengaruhi kita dalam meniti karier?

Banyak Lulusan, Banyak Pengangguran

Di satu sisi, bertambahnya grafik total generasi muda yang berhasil menyelesaikan pendidikan merupakan sebuah tanda positif akan perkembangan pendidikan di Indonesia. Namun di sisi lain, Youngvestors tentu memahami bagaimana generasi muda tidak belajar untuk mendapat gelar dan pamer ijazah, namun untuk turut terjun dalam masyarakat dan mendapat penghasilan. Memiliki banyak kaum intelektual berarti harus memiliki banyak lapangan pekerjaan. Dan ketika hal tersebut tidak mampu terpenuhi, satu-satunya hal yang muncul adalah berkembangnya pengangguran.

Jika dipandang melalui sudut pandang idealis, kita tentu akan berfokus pada bagaimana negara atau masyarakat itu sendiri harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Secara teori, harus tercipta keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam aspek pekerjaan. Namun di sisi lain apakah ada jaminan bagi tiap-tiap individu untuk mendapatkan pekerjaan? Tidak.

Youngvestors tentu harus menerima kenyataan pahit bahwa tidak akan ada lapangan pekerjaan yang disodorkan secara cuma-cuma. Youngvestors bersama beribu calon karyawan lainnya harus saling berhadapan untuk merebut satu bangku dalam perusahaan. Dan itu adalah fakta yang tidak dapat dielakkan.

Uang vs. Kebahagiaan

Dalam memandang dunia, individu terbagi atas sosok-sosok yang yang siap mengorbankan apapun demi menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam semesta yang sama, akan ada sosok lain yang berusaha untuk menghasilkan uang sesuai dengan passion dan kesenangannya. Lantas mana yang benar dan mana yang salah? Tidak ada.

Pihak-pihak realistis yang memandang uang sebagai satu-satunya pondasi dalam menjalani hidup tentu tidak akan repot-repot mencari pekerjaan yang sesuai passion. Tidak ada lagi pandangan harus mendapat pekerjaan yang nyaman, yang membuat bahagia dan sebagainya. Dari A, B, sampai Z akan disikat jika uangnya besar! Tapi pihak-pihak yang berpegang teguh dengan keinginannya atau pihak dengan privilege yang lebih besar mungkin tidak segan menganggur atau bergaji kecil demi menemukan pekerjaan yang dianggap sesuai.

Berada dalam Batas Buram Keduanya

Hampir semua orang akan pernah berada dalam garis tengah, garis yang membatasi idealis dan realis dalam memandang dunia. Jika Youngvestors berkaca pada banyak orang sukses, banyak dari mereka yang pada awalnya berdiri dengan segenggam idealisme yang hendak dicapai. Membawa pengharapan-pengharapan yang dipandang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun dalam praktiknya banyak dari mereka yang kemudian harus mengambil keputusan realistis untuk tetap stabil dalam dunia karier. Di sisi lain, pemimpin-pemimpin realis tentu juga turut membawa segenggam nilai yang ingin dicapainya untuk dapat berjalan terarah. Tidak hanya pemimpin-pemimpin realis, sosok idealis juga banyak ditemukan dalam berbagai lingkungan pekerjaan.

Begitu pula bagi Youngvestors yang tidak perlu pusing memikirkan harus mengubah sudut pandang untuk dapat meniti karier dengan baik. Idealisme dan realistis bukan tidak mungkin untuk berjalan beriringan. Maka tidak perlu ada perbandingan besar-besaran antara keduanya dalam memandang dunia. Youngvestors tetap dapat menjadi sosok idealis yang turut memerhatikan fakta di depan mata atau menjadi sosok realis yang memegang teguh nilai-nilai kehidupan. Cukup fair, bukan?

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan artikel ini kepada Youngvestors lainnya. Bagikan pengalaman Youngvestors dalam kolom komentar dan kunjungi akun Instagra, @i_amtalentindo untuk berbagai artikel lainnya. Sampai bertemu di lain waktu!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Toxic Productivity; Racun Berkedok Produktif ala Milenial!

Sejak memasuki era pandemi, batas antara kehidupan pribadi dan dunia kerja tampaknya semakin buram. Hal ini memunculkan sikap saling berlomba dalam mencapai produktivitas. Persaingan untuk mencapai produktivitas ini lahir melalui sifat fear of missing out (FOMO). Rasa takut akan ketinggalan dengan orang-orang di sekitar kita akhirnya berakhir pada aktivitas tidak berujung sebagai ajang pembuktian diri. Maka tidak heran jika Youngvestors menemukan banyak orang yang tidak pernah puas meski kesibukannya menyita waktu dari pagi hingga pagi kembali.

Sumber: www.dribbble.com

Kapan produktivitas dapat dikatakan sebagai hal yang toxic?

Istilah toxic productivity pada dasarnya bukan istilah baru. Definisi toxic productivity dalam mayoritas pandangan memiliki makna yang sama dengan workaholic, dimana individu memiliki ketertarikan berlebihan (obsesi) dalam melakukan aktivitasnya. Istilah ini digunakan ketika individu selalu merasa tidak puas atas segala kesibukan yang telah diampu atau bahkan merasa bersalah ketika tidak berhasil melakukan lebih banyak pekerjaan lagi. Toxic productivity secara konstan memberikan efek negatif pada pola pikir. Kita akan memiliki kecenderungan menganggap setiap kegiatan sebagai bentuk kegagalan karena tingginya ekspektasi akan pekerjaan. Dalam tahap ini, tingkat produktivitas akan menjadi tolak ukur penting bagi individu dalam menilai lingkungan sekitarnya.

Kapan seseorang dikatakan terjebak dalam toxic productivity?

  1. Muncul Rasa Bersalah Saat Istirahat

Tanda yang satu ini merupakan tanda yang paling umum. Obsesi yang dirasakan oleh Youngvestors ketika terjebak dalam toxic productivity menjadikan Youngvestors terus berusaha memaksimalkan kegiatan. Hal inilah yang kemudian mendorong Youngvestors untuk terus belajar dan bekerja. Orang yang terjebak dalam toxic productivity kerap kali memandang istirahat sebagai penghambat dan menimbulkan rasa bersalah saat melakukannya.

  • Aktivitas Menganggu Kesehatan

Terlalu banyak aktivitas tentu akan memengaruhi jam yang Youngvestors miliki untuk beristirahat atau sekedar bermain bersama teman. Aktivitas yang berlebihan akan menyita banyak waktu dan berakibat buruk pada kesehatan. Orang yang terjebak dalam toxic productivity merupakan orang-orang dengan tingkat dedikasi tinggi atas pekerjaan. Namun sayangnya dedikasi ini berakhir pada kondisi kesehatan yang kian menurun karena aktivitas yang tidak pernah usai.

  • Ekspektasi Berlebih

Memasuki era pandemi, banyak dari kita yang merasa memiliki lebih banyak waktu daripada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini yang kemudian menjadi alasan munculnya pandangan untuk terus melakukan hal baru. Pernyataan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Namun di sisi lain, Youngvestors tetap harus memasang ekspektasi sesuai waktu dan kemampuan hingga tidak memberikan efek samping yang buruk.

Menjadi pribadi yang produktif tentu harapan bagi semua orang. Terlebih pada masa pandemi ini berbagai akses belajar dan bekerja mulai meluas dengan pengaruh digital yang besar. Meski begitu, Youngvestors tetap harus memerhatikan waktu dan kemampuan diri agar tidak melebihi batas kewajaran. Produktivitas yang tinggi namun tidak dibarengi dengan kemampuan diri yang baik sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Maka dari itu, jangan lupa untuk perhatikan kesibukan kalian ya, Youngvestors!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya! Kunjungi akun instagram @i_amtalentindo untuk berbagai tips dan bagikan pengalaman kalian dalam kolom komentar. Sampai bertemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

30-60-90 Days Plan: Strategi untuk Persiapkan Diri bagi Fresh Graduate!

Sebagai fresh graduate, Youngvestors tentu akan dihadapkan pada situasi dan suasana baru yang sangat berbeda. Banyak dari kita yang kemudian merasa takut melakukan kesalahan karena kurangnya pengalaman. Secara harfiah, konsep 30-60-90 days plan dapat diartikan sebagai konsep penyusunan prioritas yang disusun dalam skala 30, 60, hingga 90 hari. Penyusunan konsep 30-60-90 days plan ini dilakukan melalui prioritas dan sasaran terbesar, serta tolak ukur keberhasilan aktivitas dalam salah satu periode waktu yang telah ditentukan. Secara singkat, konsep ini dapat dikatakan sebagai bentuk to-do list yang rinci dalam melakukan pekerjaan.

Berikut merupakan salah satu contoh penggunaan konsep 30-60-90 days plan:

Sumber: americanexpress.com

Lantas, apa yang dibutuhkan dan bagaimana membuat 30-60-90 days plan?

Elemen yang Dibutuhkan

Dalam membentuk konsep perencanaan ini, Youngvestors harus mulai merincikan segala bentuk tujuan dan sasaran yang menjadi prioritas. Langkah pertama yang diperlukan adalah menetapkan fokus utama dalam satu konsep perencanaan. Gunakanlah draft perencanaan berbeda untuk fokus kegiatan yang berbeda. Berikutnya, Youngvestors dapat mulai melakukan pemetaan prioritas dalam periode waktu 30, 60, dan 90 hari. Ketiga, pastikan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, serta alternatif untuk mencapai kegiatan tersebut. Terakhir, buatlah tolak ukur keberhasilan untuk memudahkan evaluasi rencana.

Bagaimana cara membuat 30-60-90 days plan?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, konsep perencanaan ini kerap kali digunakan untuk mempersiapkan wawancara atau pekerjaan baru. Hal ini membantu Youngvestors dalam menciptakan fokus yang tepat dalam periode waktu tertentu. Lantas bagaimana merincikan setiap elemen dalam konsep dengan baik?

  1. Gambaran Besar

Dalam menciptakan 30-60-90 days plan dalam lingkungan kerja, Youngvestors tentu tidak hanya perlu menganalisis kepentingan pribadi, namun juga perusahaan. Mulailah menganalisis tujuan dan ekspektasi perusahaan dalam mempekerjakan Youngvestors. Tujuan dan ekspektasi perusahaan tentu akan berbeda bergantung pada banyak variabel. Hal ini akan membantu Youngvestors untuk memetakan prioritas kegiatan untuk menciptakan impresi yang baik di mata perusahaan.

  • Bertanya

Dalam fase ini, Youngvestors sudah mampu memetakan tujuan dan skala keberhasilan dari tiap pelaksanaan kegiatan. Ajukanlah pertanyaan saat wawancara atau kepada rekan kerja, baik soal tolak ukur keberhasilan dalam perusahaan, serta perihal status quo perusahaan. Mulailah cari tahu sejauh apa pekerjaan yang dapat Youngvestors lakukan dalam 90 hari pertama dan mulailah memetakan seberapa besar dampak yang dapat diberikan kepada perusahaan.

  • Menjalin Hubungan Baik

Menjalin hubungan baik dengan banyak pemangku kepentingan merupakan salah satu kunci sukses dalam meniti karier. Dalam 30 hari pertama, berusahalah mencari banyak insight baru dengan menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang dalam ranah pekerjaan yang sama. Youngvestors dapat mulai mengatur jadwal untuk berdiskusi dengan manajer, rekan kerja satu tim, rekan kerja berbeda divisi, rekan kerja eksternal, atau karyawan yang berada di bawah Youngvestors.

Sebelum melakukan perubahan, Youngvestors harus berusaha untuk mempelajari kondisi internal perusahaan. Ajukanlah banyak pertanyaan tentang budaya, proses, tantangan, serta berbagai seluk-beluk perusahaan.

Dalam konsep 30-60-90 days plan, hal yang paling penting adalah merincikan setiap rencana dari sudut pandang berbeda. Lakukanlah analisa mendalam dan rancang konsep berdasarkan prioritas terbesar. Jika Youngvestors mampu memetakan dan menjalankan setiap rencana dengan baik, maka peluang untuk menciptakan impresi dan kemampuan adaptasi yang bagus dalam perusahaan juga akan lebih mudah untuk dicapai.

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Kunjungi akun @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya dan sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Pilihan Karier Berdasarkan Tipe MBTI, Akurat? (Part 3)

Pada artikel sebelumnya, Mintor sudah membahas mengenai pilihan karier bagi beberapa tipe kepribadian MBTI. Tes MBTI (Meyers-Briggs Type Indicator Test) merupakan salah satu tes kepribadian populer yang digunakan untuk melakukan analisa karakter. Tes ini kerap kali digunakan oleh institusi untuk menganalisa kesesuaian minat dan kepribadian pekerja. Yuk, simak pilihan karier bagi tipe-tipe lainnya!

Sumber: www.sains.kompas.com
  1. INFP (Introversion-Intuitive-Feeling-Perceiving)

INFP dikenal sebagai sosok idealis. Individu dengan jenis kepribadian yang satu ini terkenal pendiam dan menyukai tempat dan suasana yang sepi. INFP memiliki intuisi kuat dan imajinatif. Individu dengan tipe ini kerap kali bersikap perfeksionis dan teliti dalam melakukan pekerjaan. Namun, INFP cenderung menyukai gambaran besar, dibanding meneliti detail-detail kecil. Sosok INFP dikenal sebagai sosok yang idealis dan altruistik.

Sosok ini memiliki tingkat empati yang tinggi, hingga menjadikan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Sifatnya yang idealis menjadikan pribadi ini berupa keras untuk memperbaiki dunia dan lingkungan sekitarnya. Individu dengan tipe MBTI INFP cocok dengan beberapa pilihan karier, seperti copywriter, seniman, fotografer, mediator, musisi, guru.

  • INTP (Introversion-Intuition-Thinking-Perceiving)

Tipe yang satu ini dikenal sebagai sosok logis yang mampu memberikan solusi luar biasa. Sifatnya yang peka dan empati yang tinggi, membuat individu dengan tipe ini mampu ’membaca’ situasi dan kondisi orang lain. INTP merupakan pribadi yang kreatif dan memiliki rasa ingin tahu besar. Hal ini menjadikan sosok INTP memiliki kemampuan sebagai problem solver yang baik. Individu dengan tipe MBTI INTP cocok dengan beberapa jenis karier seperti marketing consultant, software developer, programmer, ahli forensik, dan insinyur.

  • ISFJ (Introversion-Sensing-Feeling-Judging)

Tipe ISFJ merupakan sosok murah hati yang sangat peduli dengan sekitarnya. Sosok ini dikenal memiliki empati tinggi dan dermawan. Individu denga tipe ISFJ memiliki tingkat disiplin dan sangat bertanggungjawab atas tugas dan kewajibannya. Sosok ini dikenal teliti dan sangat terstruktur. ISFJ kerap kali merasa kesulitan menerima pandangan baru karena sifatnya yang tertutup. Meski begitu, sikap disiplin dan terstrukturnya sangat membantu dalam pengembangan karier. Sosok ini sesuai ditempatkan dalam pekerjaan yang membutuhkan keteraturan dan detail yang tinggi.

Jenis karier yang cocok dengan tipe ini research analyst, guru, finance staff, manajer administrasi, bankir, akuntan.

  • ISFP (Introversion-Sensing-Feeling-Perceiving)

Tipe yang satu ini tidak seperti kebanyakan tipe MBTI introvert. Tipe ISFP senang bersosialisasi dan mencoba ide-ide baru. Hal ini menjadikan tipe ISFP lebih mudah didekati dan cenderung lebih adaptif dibanding tipe introvert lainnya. ISFP memiliki dedikasi dan tanggungjawab besar dalam menyelesaikan tugass dan kewajibannya. Tipe yang satu ini sangat menyukai keharmonisan, tipe ISFP kerap kali berusaha menghindari konfrontasi dan hal-hal yang berpeluang menciptakan argumentasi.

ISFP diyakini sesuai dalam menekuni pekerjaan yang berkaitan dengan alam. Empati dan rasa pedulinya yang tinggi membuat sosok ini cocok dengan jenis pekerjaan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti perawat, dokter, psikolog, desainer, juga naturalis.

Beberapa tipe MBTI di atas akan menjadi penutup untuk artikel terkait tes MBTI kali ini, Youngvestors! Setelah melihat berbagai karier tersebut, apakah pilihan karier tersebut sesuai dengan minat dan bakat Youngvestors? Yuk, bagikan pandangan Youngvestors dalam kolom komentar!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Kunjungi akun @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya dan sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Mengenal Hukum 21/90: Bisa Majukan Karier?

“Hari ini ngga dulu deh, lagi ngga ada waktu!”

“Kayak ngga ada hari esok aja, hari ini cheating dulu lah”

Youngvestors tentu pernah mendengar atau bahkan menjadi pihak yang menyatakan ungkapan di atas bukan? Kita kerap kali menunda pekerjaan dengan alasan ‘bisa dilakukan besok’, ‘mager, ‘ngga ada waktu’, dan berbagai alasan pembenar lainnya. Nyatanya, kita hanya membutuhkan 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru loh, Youngvestors!

Hukum 21 hari pertama kali diperkenalkan oleh Dr Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik yang menemukan keanehan pada pola berulang pasiennya. Dr Maxwell Maltz menemukan pola berulang, dimana mayoritas pasien yang melakukan operasi akan menjadi terbiasa dengan kondisi barunya pada hari ke-21. Hal inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa kebiasaan baru dapat dibentuk hanya dalam waktu 21 hari.

Di sisi lain, muncul penelitian dari European Journal of Social Psychology yang dilakukan Phillippa Lally, seorang psikolog kesehatan asal University College London dan tim risetnya. Penelitian tersebut berhasil meneliti kebiasaan 96 orang dalam periode 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan dibutuhkannya waktu berkisar 18 hingga 254 hari bagi individu, bergantung pada jenis kegiatan dan kemampuan diri. Penelitian ini mengaskan dibutuhkannya waktu dua hingga delapan bulan untuk benar-benar membentuk kebiasaan baru dalam pola kehidupan.

Berbagai pandangan ini kemudian meluas dan menciptakan asumsi-asumsi baru, salah satunya adalah hukum 21/90 yang populer di kalangan masyarakat.

Sumber: www.demico.co

‘It takes twenty-one days to create a habit. It takes ninety days to create a lifestyle’

Hukum 21/90 menegaskan bawah dibutuhkan 21 hari bagi individu untuk membangun kebiasaan baru, namun dibutuhkan waktu hingga 90 hari untuk menjadikan kebiasaan tersebut sebagai gaya hidup. Hukum ini cukup populer dalam kalangan masyarakat dan dapat ditemukan dalam banyak buku self-development. Hukum 21/90 kerap kali digunakan dalam berbagai kesempatan, salah satunya adalah terkait program karier. Lantas, apa hubungan hukum 21/90 dengan perkembangan karier?

Belajar Skill Baru Tidak Butuh Waktu Lama

Seperti yang dipaparkan di atas, Youngvestors tentu pernah mengalami beberapa waktu padat hingga enggan melakukan aktivitas atau kegiatan baru. Namun dengan hukum di atas, Youngvestors hanya harus melakukan rutinitas pada 21 hari pertama untuk membiasakan diri menerima aktivitas tersebut. Waktu yang cukup singkat bukan? Maka dari itu, tidak ada alasan bagi Youngvestors untuk enggan mencoba dan memelajari hal baru!

Menciptakan Budaya Disiplin

Membiasakan diri untuk mengikuti hukum 21/90 akan membantu Youngvestors untuk menyusun rencana dengan lebih terarah. Hal ini dikarenakan dibutuhkannya jadwal rutinitas yang baik untuk menjadikan rencana tersebut berhasil. Tidak hanya skill yang semakin baik, Youngvestors juga akan menjadi disiplin dan teratur dalam menjalankan kewajiban!

Hukum 21/90 pada dasarnya merupakan angka relatif yang menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan Youngvestors dalam beradaptasi pada kegiatan. Meski begitu, hukum ini terbilang cukup ampuh dalam menjaga konsistensi aktivitas, sehingga Youngvestors akan lebih mudah dalam membiasakan diri pada aktivitas baru.  Setelah mengetahui hukum ini, Youngvestors tentu sudah tidak punya alasan untuk mager memulai dong?

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Kunjungi akun @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya dan sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Pilihan Karier Berdasarkan Tipe MBTI, Akurat? (Part 2)

Tes MBTI (Meyers-Briggs Type Indicator Test) merupakan tes populer yang sering digunakan institusi untuk melakukan analisa karakter pekerja. Dalam artikel sebelumnya, Mintor sudah memaparkan berbagai pilih karier bagi tipe-tipe kepribadian MBTI. Yuk, simak pilihan karier bagi tipe lainnya!

Sumber: www.hipwee.com
  1. ISTJ (Introversion-Sensing-Thinking-Judging)

ISTJ dikenal sebagai tipe inspector, dimana karakter individu biasanya cenderung kaku, serius, dan formal. Tipe yang satu ini cenderung tertutup dan menyukai sesuatu yang teratur. Sifatnya sedikit konservatif, namun mengedepankan rasa hormat, pekerja keras, rapi, dan teratur. Individu dengan tipe ISTJ cenderung pendiam, analitis, dan berorientasi pada detail. Karier yang cocok untuk tipe ini adalah dokter, hakim, akuntan, juga business analyst.

  • INFJ (Introversion-Intuition-Feeling-Judgement)

Tipe yang satu ini disebut sebagai sosok counselor yang memiliki sifat idealis, imajinatif, dan kaya akan ide. Tipe INFJ menghargai segala bentuk eksistensi dan kedamaian. Sosok ini dikenal sebagai individu dengan empati tinggi dan kemampuan menjaga relasi yang baik. Karier yang cocok untuk tipe ini adalah psikolog, konselor, pemusik, arsitek, hingga desainer.

  • INTJ (Introversion-Intuitive-Thinking-Judging)

Tipe INTJ merupakan pribadi yang pendiam dan menyukai kesendirian. Tipe ini kurang menyukai keramaian karena besarnya energi yang terkuras dalam melakukan sosialisasi. Tipe INTJ sangat unggul dalam melakukan perencanaan dan penyusunan strategi. Individu dengan kepribadian ini mampu melihat dunia dalam gambaran besar. Wawasan dan intuisinya yang kuat sangat membantu dalam meniti karier. Karier yang cocok untuk tipe ini adalah penasihat keuangan, marketing manager, insinyur, juga jaksa.

  • ENFJ (Extroversion-Intuitive-Feeling-Judging)

Tipe yang satu ini memiliki irisan ekstrovert yang menjadikan individu memiliki kemampuan bersosialisasi tingkat tinggi. Individu tipe ini kerap kali mengandalkan intuisi dan perasaan. Tipe ENFJ dikenal sebagai pemimpin alami. Sosok ini memiliki semangat dan empati tinggi. Kemampuannya dalam melihat kebaikan dan keunggulan orang lain menjadi poin plus dalam menjalin relasi. Karier yang cocok untuk tipe ini adalah sales, public relations, konsultan karir, penulis, juga motivator.

  • ISTP (Introversion-Sensing-Thinking-Perceiving)

Tipe yang satu ini dikenal sebagai pribadi yang misterius dan mengutamakan logika. Dalam beberapa kasus, kepribadian yang satu ini menimbulkan pertanyaan besra karena sikapnya yang sulit diprediksi. Sosok ISTP dikenal sebagai problem solver yang hebat dengan kemampuannya melihat detail. Individu dengan kepribadian ISTP dikenal sulit diatur dan menyukai kekuasaan. Kemampuan nalarnya yang tinggi menjadikan sosok ini cocok dalam banyak karier, seperti sains forensik, teknisi, pemrograman komputer, serta ilmuwan.

  • ESFJ (Extroversion-Sensing-Feeling-Juding)

Tipe ESFJ merupakan individu yang mudah bergaul dan senang berinteraksi. Tipe ini biasanya senang menjadi pusat perhatian dan berbicara di depan banyak orang. Tipe ESFJ memiliki sensivitas tinggi sehingga memudahkan mereka untuk melihat kebutuhan dan emosi orang lain. Hal ini sangat membantu dalam menjalin relasi yang baik. Beberapa karier yang cocok untuk tipe ini adalah pekerja sosial, guru, konselor, dan bidang pelayanan.

Setelah melihat berbagai karier tersebut, apakah ada kesesuaian antara passion dan tipe kepribadian MBTI Youngvestors? Yuk, bagikan pandangan Youngvestors dalam kolom komentar!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Kunjungi akun @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya dan sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Pilihan Karier Berdasarkan Tipe MBTI, Akurat? (Part 1)

Youngvestors tentu sudah tidak asing dengan berbagai tes dan tipe personality, salah satunya adalah tes MBTI. Tes MBTI (Meyers-Briggs Type Indicator Test) merupakan salah satu tes populer yang sering digunakan untuk melihat tipe kepribadian individu. Tes ini kerap kali digunakan institusi untuk menganalisa karakteristik pekerja yang sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.

Sumber: www.owlcation.com

Tes MBTI didasarkan pada delapan kategori berbeda, yakni sensing, intuition, thinking, feeling, judging, perceiving, introversion, dan extraversion. Kategori inilah yang kemudian dikombinasikan untuk menentukan tipe kepribadian individu. Tipe kepribadian ini sejatinya dapat berubah, sehingga Youngvestors mungkin harus melakukan tes secara berulang, baik dalam waktu yang sama atau dalam jangka waktu berbeda.

  1. ESFP (Extroversion-Sensing-Feeling-Perceiving)

ESFP dikenal sebagai tipe performer, dimana individu dideskripsikan sebagai sosok yang senang menjadi pusat perhatian dan tampil di depan banyak orang. Tipe ini dikenal sebagai sosok yang hangat dan menyenangkan, berempati tinggi, juga ramah. Dengan deskripsi tersebut, tipe kepribadian yang satu ini biasanya ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan performa fisik, seperti artis, tour guide, sales representative, hingga event planner.

  1. ENFP (Extroversion-Intuitive-Feeling-Perceiving)

Tipe ENFP dikenal sebagai sosok pecinta kebebasan (free spirit) yang sulit untuk dipaksa atau diatur. Sifat terkuatnya muncul dari intuitif yang menjadikan sosok ini ebagai pribadi yang cepat tanggap dan sensitif. ENFP cenderung mengarah pada sense oriented, dimana individu kerap kali mementingkan aktivitas yang menyenangkan hati dibandingkan pendapatan. Tipe ini dikenal sebagai sosok komunikator dengan tingkat fleksibilitas tinggi. Karier yang tepat untuk tipe ENFP adalah reporter, jurnalis, pemusik, dan pekerja sosial.

  1. ESTP (Extroversion-Sensing-Thinking-Perception)

ESTP dikenal sebagai pemikir yang mengutamakan data dan logika dalam mengambil keputusan. Sosok ini terkenal dengan empatinya yang cukup tinggi, sehingga mudah bagi mereka untuk menciptakan interaksi sosial yang baik dan  bersikap persuasif. Individu bertipe ESTP ini senang melakukan improvisasi, memiliki antusiasme dan semangat yang tinggi. Karier yang cocok bagi tipe ini adalah sales agent, marketer, pengusaha, juga project coordinator.

  1. ESTJ (Extroversion-Sensing-Thinking-Judging)

ESTJ akrab disapa sebagai sosok supervisor, yakni individu yang teorganisir, jujur dan berdedikasi. Individu bertipe ESTJ merupakan orang-orang yang sering ditemui sebagai sosok pemimpin karena dianggap dapat diandalkan. Sikapnya yang pekerja keras, berdedikasi tinggi, disiplin serta kemampuannya dalam menyelesaikan permasalahan menjadi poin plus. Karakter ini menjadikan tipe ESTJ sebagai sosok yang tepat untuk beberapa pilihan karier, seperti polisi, hakim, pengacara, manajer, auditor, dan berbagai pekerjaan lain yang berhubungan langsung dengan manajemen dan pengawasan.

  1. ENTJ (Extroversion-Intuition-Thinking-Judging)

Tipe ENTJ dikenal sebagai salah satu tipe kepribadian yang langka dan mayoritas bergender laki-laki. Sosok ini dikenal sebagai individu dengan tekad yang kuat, berkarisma, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tipe ENTJ digadang sebagai pemimpin alami yang unggul dalam menciptakan komunikasi dan relasi yang baik, cermat dalam membuat keputusan, logis, dan problem solver cerdas. Sifatnya inilah yang kemudian menjadikan tipe ENTJ mudah dalam meniti karier. Karier yang cocok untuk tipe ini adalah pengusaha, hakim, ataupun business administrator.

  1. ENTP (Extroversion-Intuitive-Thinking-Perceiving)

ENTP merupakan sosok visioner yang terkenal cerdas dan memiliki wawasan luas. Sosok ini dikenal sebagai individu yang logis, objektif, senang melakukan ide baru. Tipe ENTP merupakan salah satu tipe dengan kemampuan sosialisasi yang baik, kreatif, dan penyanyang. Meski begitu, tipe ini juga dikenal dengan sikapnya yang suka berdebat. Hal ini terjadi karena wawasannya yang luas dan nada bicara yang cenderung tinggi hingga berpeluang memicu konflik. Tipe yang satu ini cocok berkarier sebagai pengacara, ilmuwan, psikolog, juga system analyst.

Tes MBTI sejatinya dapat berubah mengikuti perkembangan dalam diri individu, sehingga setiap tes yang Youngvestors lakukan mungkin dapat mengalami perubahan. Meski begitu, tes tersebut dapat Youngvestors gunakan sebagai gambaran besar akan karakteristik Youngvestors sendiri. Melalui penjelasan di atas, apakah karier tersebut sesuai dengan keinginan Yooungvestors atau justru sebaliknya? Yuk, sampaikan pendapat Youngvestors dalam kolom komentar!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Kunjungi akun @i_amtalentindo untuk berbagai tips lainnya dan sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Awas Salah, Ini Rumus Jitu Jawab Pertanyaan dari HRD! (Part 2)

Pada artikel sebelumnya, Youngvestors tentu sudah mengetahui bagimana cara menjawab beberapa pertanyaan ringan yang sering dipaparkan oleh rekruter. Namun ternyata masih banyak sekali jenis pertanyaan jebakan yang harus dipersiapkan loh, Youngvestors. Yuk, simak beberapa pertanyaan lainnnya!

Sumber: www.freepik.com
  1. Mengapa Youngvestors Berhenti Bekerja?

Pertanyaan yang satu ini biasanya diajukan ketika Youngvestors sudah memiliki pengalaman kerja sebelumnya. Pertanyaan satu ini akan membantu rekruter untuk melihat karakter Youngvestors, maka pastikan untuk menunjukkan sisi terbaik saat menjawabnya.

Hindari menjawab dengan alasan personal, terlebih pada motif yang berorientasi konflik. Youngvestors juga menghindari jawaban yang memberikan kesan buruk pada institusi sebelumnya. Hal ini dikarenakan jawaban tersebut akan menunjukkan sisi unprofessional dan memberikan nilai negatif pada citra diri. Fokuslah pada jawaban yang berorientasi pada self-improvement, gunakan jawaban yang menunjukkan keinginan Youngvestors untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Berapa Besar Gaji yang Youngvestors Inginkan?

Semua pekerja di dunia tentu menginginkan gaji yang besar. Hal tersebut tidak salah selama Youngvestors mengetahui seberapa baik kemampuan yang dapat ditawarkan. Untuk menjawab pertanyaan ini, Youngvestors harus mulai memperhitungkan standar gaji untuk posisi yang akan dilamar. Perhitungan ini kemudian disesuaikan kembali dengan berbagai faktor yang dapat Youngvestors tawarkan, mulai dari basic skill hingga pengalaman kerja. Jika Youngvestors merasa memiliki skill dan pengalaman yang baik, Youngvestors tidak perlu takut untuk memasang patokan range gaji yang tinggi. Jangan lupa berikan detail alasan yang masuk akal ya, Youngvestors!

  • Apakah Ada yang Ingin Ditanyakan?

Mayoritas pelamar akan menjawab ‘tidak’ dengan anggapan sudah memahami segala seluk-beluk perusahaan dengan baik. Jika mendapatkan kesempatan, berikanlah pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak Youngvestors dapatkan dari internet atau platform manapun, seperti nilai perusahaan, cara kerja, sistem lembur, dan sebagainya. Hal ini akan menunjukkan adanya ketertarikan yang jelas kepada institusi yang Youngvestors lamar. Pastikan untuk tidak menanyakan pertanyaan basa-basi ya, Youngvestors!

Youngvestors tidak perlu takut akan salah menjawab saat melakukan tes wawancara. Menjawab pertanyaan rekruter dengan kebohongan hanya akan menciptakan keadaan yang lebih rumit setelahnya, maka  pastikan untuk menjawab sejujur dan sebaik mungkin. Mulailah latihan wawancara ringan, seperti berlatih di depan kaca hingga melakukan tanya jawab dengan kerabat atau teman. Upaya tersebut memang terkesan kecil, namun jika dilakukan secara rutin akan sangat membantu Youngvestors untuk menguasai keadaan saat sedang melakukan tes wawancara.

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan ke Youngvestors lainnya! Bagikan tips dan pengalaman Youngvestors dalam kolom komentar, serta kunjungi akun instagram @i_amtalentindo untuk berbagai tips menarik lainnya. Sampai bertemu di artikel selanjutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

CV vs. LinkedIn: Pilih Mana?

Melihat pesatnya perkembangan teknologi, Youngvestors tentu pernah mendengar tentang Curriculum Vitae (CV) juga LinkedIn. Banyak dari kita tentu berpikir bahwa CV dan LinkedIn merupakan dua hal yang sama. Satu-satunya hal yang membedakan adalah LinkedIn merupakan aplikasi berbentuk digital. Ternyata, banyak perbedaan mendasar dalam keduanya loh, Youngvestors!

Sumber: www.pinterest.com
  1. LinkedIn sebagai Alat Branding yang Informal

Youngvestors tentu selalu berpikir bahwa hal-hal yang berhubungan dengan karier harus selalu kaku dan profesional. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun di sisi lain, Youngvestors harus memahami bahwa akan diperlukannya sikap friendly dan ‘akrab’ untuk menciptakan jalinan kerja sama yang baik. CV pada dasarnya digunakan sebagai wadah untuk memberikan informasi singkat mengenai riwayat diri. Namun LinkedIn tidak hanya sekedar wadah branding, namun juga berperan sebagai alat untuk menjalin kerja sama. Maka dari itu, penting bagi Youngvestors untuk menciptakan citra yang ingin dilihat orang lain daripada mempertahankan sikap kaku yang terkesan tidak bersahabat.

  1. Sudut Pandang

Dalam penulisan CV, Youngvestors perlu memastikan adanya penggunaan orang ketiga sebagai kata sapaan. Penggunaan sapaan orang ketiga dinilai sebagai nilai tambah dan alternatif untuk mengalihkan fokus rekruter pada kapabilitas. Hal ini dikarenakan CV sejak awal memang diperuntukkan sebagai alat branding atas skill dan kemampuan diri. Sebaliknya, penggunaan sapaan orang pertama snagat dibutuhkan dalam LinkedIn. Selayaknya poin pertama, LinkedIn memberikan kesempatan bagi Youngvestors untuk menjalin kerja sama. Penggunaan sapaan orang pertama akan membantu membangun kesan akrab dan ramah.

  1. Gambar

Youngvestors tentu memahami bahwa gambar (selain foto) sejatinya tidak dibutuhkan dalam pembuatan CV. CV profesional harus digunakan secara optimal untuk menjelaskan kapabilitas dibanding menempatkan gambar-gambar. Selain itu, penggunaan banyak icon dan gambar juga kerap kali menjadikan CV tersebut tidak dapat lulus sensor mesin. Di sisi lain, LinkedIn mewadahi Youngvestors untuk dapat membagikan gambar aktivitas dan pencapaian sebagai nilai jual. Hal ini akan membantu Youngvestors untuk mendapatkan validasi atas kapabilitas dan kemampuan Youngvestors!

Melalui penjelasan di atas, lantas apakah LinkedIn lebih penting dari CV?

Tidak. Youngvestors tentu perlu menyiapkan keduanya untuk melakukan pelamaran kerja. Hal ini dikarenakan masih banyak institusi yang membutuhkan CV profesional. Meski begitu, ada baiknya bagi Youngvestors untuk menyiapkan keduanya. Youngvestors dapat mencantumkan alamat LinkedIn dalam CV sebagai alat penunjang untuk memberikan nilai tambah, Jadi tidak perlu ragu, ya!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya. Bagikan tips dan pengalaman dalam kolom komentar, serta kunjungi akun instagram @iam_talentindo untuk berbagai tips lainnya! Smapai bertemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Awas Salah, Ini Rumus Jitu Jawab Pertanyaan dari HRD! (Part 1)

Hampir semua orang merasa takut dan gugup saat akan tes wawancara. Hal ini biasa terjadi karena kondisi dinamis yang muncul saat wawancara membuat tes tersebut sulit diprediksi. Namun apakah hal tersebut berarti kita tidak bisa berlatih dan mempersiapkan diri? Tidak.

Sumber: yellowimages.com

Youngvestors nyatanya masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan baik, salah satunya adalah dengan memprediksi pertanyaan yang akan diberikan HRD!

  1. ‘Silahkan perkenalkan diri terlebih dahulu’

Melalui pertanyaan ini, HRD membuka gerbang untuk mengenal pelamar lebih jauh. Namun hal tersebut tidak berarti Youngvestors perlu membeberkan informasi tidak relevan dalam kebutuhan dunia kerja, mulai dari tinggi badan, berat badan, suku dan sebagainya. Jawablah pertanyaan tersebut dengan menyebutkan informasi nama, usia, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, juga minat dan ketertarikan Youngvestors. Pertanyaan tersebut akan menjadi pertanyaan pertama yang dilontarkan para HRD, jadi berusahalah untuk menciptakan impresi dan ketertarikan pada jawaban Youngvestors!

  • ‘Sebutkan kelebihan dan kekurangan kamu’

Jawablah pertanyaan tersebut dengan spesifik dan percaya diri. Jadikan pertanyaan tersebut sebagai kesempatan bagi Youngvestors dalam ‘menjual’ diri melalui skill yang mumpuni. Ketika dihadapkan pada pertanyaan terkait kelemahan, jawablah sejujur mungkin. Youngvestors tidak perlu terlalu fokus dalam menyebutkan kekurangan, fokuslah dalam mengungkapkan bagaimana Youngvestors menangani kelemahan-kelemahan tersebut hingga menjadi peluang yang baik!

  • ‘Kenapa kamu memutuskan untuk melamar disini?’

Pertanyaan ini digunakan untuk melihat seberapa besar ketertarikan Youngvestors atas suatu posisi dan instansi tersebut. Usahakan untuk tidak menjawab pertanyaan secara general dan membosankan, ya, Youngvestors! Youngvestors dapat memberikan jawaban dengan memaparkan kelebihan-kelebihan dan ekspektasi yang ingin dicapai jika mendapat kesempatan untuk berkontribusi!

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan dasar yang selalu dilontarkan oleh HRD saat tes wawancara. Meski muncul banyak pertanyaan yang tidak dapat diprediksi, Youngvestors masih dapat berlatih untuk menjawab pertanyaan statis seperti di atas. Kunci untuk menjawab pertanyaan wawancara adalah berlatih dan percaya diri. Maka dari itu, Youngvestors tidak perlu takut dan grogi saat menjawab. Jadilah diri sendiri dan jawablah sejujur mungkin!

Semoga artikel tersebut bermanfaat dan jangan lupa bagikan ke Youngvestors lainnya. Bagikan tips dan pengalaman dalam kolom komentar dan kunjungi akun instagram @i_amtalentindo untuk tips lainnya. Sampai bertemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!