I AM Community

Toxic Productivity; Racun Berkedok Produktif ala Milenial!

Sejak memasuki era pandemi, batas antara kehidupan pribadi dan dunia kerja tampaknya semakin buram. Hal ini memunculkan sikap saling berlomba dalam mencapai produktivitas. Persaingan untuk mencapai produktivitas ini lahir melalui sifat fear of missing out (FOMO). Rasa takut akan ketinggalan dengan orang-orang di sekitar kita akhirnya berakhir pada aktivitas tidak berujung sebagai ajang pembuktian diri. Maka tidak heran jika Youngvestors menemukan banyak orang yang tidak pernah puas meski kesibukannya menyita waktu dari pagi hingga pagi kembali.

Sumber: www.dribbble.com

Kapan produktivitas dapat dikatakan sebagai hal yang toxic?

Istilah toxic productivity pada dasarnya bukan istilah baru. Definisi toxic productivity dalam mayoritas pandangan memiliki makna yang sama dengan workaholic, dimana individu memiliki ketertarikan berlebihan (obsesi) dalam melakukan aktivitasnya. Istilah ini digunakan ketika individu selalu merasa tidak puas atas segala kesibukan yang telah diampu atau bahkan merasa bersalah ketika tidak berhasil melakukan lebih banyak pekerjaan lagi. Toxic productivity secara konstan memberikan efek negatif pada pola pikir. Kita akan memiliki kecenderungan menganggap setiap kegiatan sebagai bentuk kegagalan karena tingginya ekspektasi akan pekerjaan. Dalam tahap ini, tingkat produktivitas akan menjadi tolak ukur penting bagi individu dalam menilai lingkungan sekitarnya.

Kapan seseorang dikatakan terjebak dalam toxic productivity?

  1. Muncul Rasa Bersalah Saat Istirahat

Tanda yang satu ini merupakan tanda yang paling umum. Obsesi yang dirasakan oleh Youngvestors ketika terjebak dalam toxic productivity menjadikan Youngvestors terus berusaha memaksimalkan kegiatan. Hal inilah yang kemudian mendorong Youngvestors untuk terus belajar dan bekerja. Orang yang terjebak dalam toxic productivity kerap kali memandang istirahat sebagai penghambat dan menimbulkan rasa bersalah saat melakukannya.

  • Aktivitas Menganggu Kesehatan

Terlalu banyak aktivitas tentu akan memengaruhi jam yang Youngvestors miliki untuk beristirahat atau sekedar bermain bersama teman. Aktivitas yang berlebihan akan menyita banyak waktu dan berakibat buruk pada kesehatan. Orang yang terjebak dalam toxic productivity merupakan orang-orang dengan tingkat dedikasi tinggi atas pekerjaan. Namun sayangnya dedikasi ini berakhir pada kondisi kesehatan yang kian menurun karena aktivitas yang tidak pernah usai.

  • Ekspektasi Berlebih

Memasuki era pandemi, banyak dari kita yang merasa memiliki lebih banyak waktu daripada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini yang kemudian menjadi alasan munculnya pandangan untuk terus melakukan hal baru. Pernyataan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Namun di sisi lain, Youngvestors tetap harus memasang ekspektasi sesuai waktu dan kemampuan hingga tidak memberikan efek samping yang buruk.

Menjadi pribadi yang produktif tentu harapan bagi semua orang. Terlebih pada masa pandemi ini berbagai akses belajar dan bekerja mulai meluas dengan pengaruh digital yang besar. Meski begitu, Youngvestors tetap harus memerhatikan waktu dan kemampuan diri agar tidak melebihi batas kewajaran. Produktivitas yang tinggi namun tidak dibarengi dengan kemampuan diri yang baik sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Maka dari itu, jangan lupa untuk perhatikan kesibukan kalian ya, Youngvestors!

Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa bagikan kepada Youngvestors lainnya! Kunjungi akun instagram @i_amtalentindo untuk berbagai tips dan bagikan pengalaman kalian dalam kolom komentar. Sampai bertemu di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *