I AM Community

Sudah Melek Finansial Tapi Belum Kaya?

Sumber: GOBankingRates – Robert Kiyosaki

Siapa yang tidak mengenal Robert T. Kiyosaki? Dilansir melalui bukunya, Robert adalah penulis buku terkenal yaitu Rich Dad Poor Dad, buku pengelolaan keuangan nomor satu sepanjang masa. Dia seorang wirausaha, pendidik, dan investor yang juga telah mendirikan The Rich Dad Company, perusahaan pendidikan keuangan, serta pencipta permainan CASHFLOW.

Robert banyak memberikan pelajaran penting dalam buku Rich Dad Poor Dad kepada pembacanya, termasuk Mintor. Maka dari itu, Mintor disini ingin untuk membagikan sedikit pelajaran penting yang dapat Youngvestors terima dan rasakan manfaatnya. Robert menuliskan dalam bukunya mengenai bagaimana mengatasi sebuah rintangan dalam mencapai kebebasan finansial. Kebebasan finansial merupakan keadaan ketika seseorang tidak butuh bekerja namun dapat tetap berpenghasilan melalui passive income maupun bisnis yang dikerjakan. Robert sendiri menyatakan bahwa orang yang melek finansial sekalipun belum dapat membuat daftar aset / harta / kekayaan yang berlimpah karena beberapa alasan. Yuk kita langsung lihat apa saja yang menjadi alasan seseorang belum bisa membangun aset yang berlimpah bersama!

Sumber: Freepik – Scared Images

1. Rasa Takut

Sangat wajar untuk merasakan rasa takut, apalagi jika terkait dengan uang yang akan membuat seseorang lebih sensitif. Tidak ada orang yang ingin kehilangan uang, bukan? Robert berkata bahwa, “Takut kehilangan itu sesuatu yg riil. Setiap orang memilikinya, bukan hanya orang kaya. Namun, bukan rasa takut itu masalahnya. Masalahnya adalah cara mengatasi ketakutan itu.” Dari pernyataan ini, Robert menyetujui bahwa setiap orang berhak memiliki rasa takut dan khawatir terhadap sesuatu, khususnya uang. Namun, bagi Robert yang menjadi poin penting adalah bagaimana cara  seseorang mengatasi ketakutan tersebut. Robert pun menjelaskan cara mengatasi rasa takut adalah dengan mengingat bahwa kegagalan harus dapat diterima dan menjadikannya sebagai kemenangan. Dia juga menyadari bahwa kegagalan hanya akan menjadikan seseorang menjadi lebih kuat dan lebih pandai. Seperti layaknya belajar naik sepeda, kita pasti merasakan takut di awal belajar, merasakan jatuh dan terluka saat belajar. Namun jika terus berlatih dan semakin memahami bagaimana cara mengendalikan sepeda tersebut, kita akan terlatih dan dapat mengendalikan sepeda tanpa rasa takut dan terluka kembali. Sama seperti finansial, kita perlu menyadari bahwa kegagalan merupakan bagian dari kemenangan, lantas apa yang harus kita khawatirkan?

Sumber: Coeur d’Alene Counseling – 10 Signs You Might Be a “Highly Sensitive Person”

2. Sensitif

Seperti yang sudah Mintor katakan sebelumnya, jika membahas uang, seseorang akan menjadi lebih sensitif karena uang bersifat lebih personal. Tak hanya itu, sensitif bisa ditemui misalnya pada pasar modal yang terkena sentimen-sentimen baik itu positif maupun negatif bagi suatu emiten maupun investor. Jika sentimen positif, biasanya grafik akan naik dan begitu juga sebaliknya. Jika terkena sentimen negatif, biasanya beberapa investor akan langsung berbondong-bondong untuk menjual saham tersebut karena takut jika harga saham turun. Namun hal tersebut tidak akan berlaku bagi seorang investor yang cerdas. Robert menyatakan dalam bukunya, bahwa investor yang cerdas tahu bahwa masa yang sepertinya buruk sebenarnya merupakan saat terbaik untuk menghasilkan uang. Mintor setuju dengan pernyataan Robert, kita lihat saja bersama dengan contoh yang nyata ketika pandemi COVID-19 datang ke Indonesia bulan Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sangat dalam. Banyak investor yang takut kehilangan uang yang mengakibatkan mereka menjual sahamnya. Namun, Mintor saat itu mengambil kesempatan tersebut untuk membeli sebuah saham emiten yang Mintor rasa bagus dan akhirnya berhasil mendapatkan return yang lumayan besar hanya beberapa bulan saja karena pergerakan harga IHSG yang mulai pulih pada awal tahun 2021.

Sumber: Depositphotos – Lazy Cartoon Stock Images

3. Kemalasan

Robert menjelaskan bahwa dengan adanya pikiran malas yang berkata, “Saya tak mampu membelinya,” akan menjadikan kita sedih, merasa tidak berdaya yang mengarah ke patahnya semangat hingga depresi. Untuk mengatasi hal ini, Robert mengusulkan untuk mengubah pertanyaan dengan, “Bagaimana saya bisa membelinya?” yang membuka kemungkinan, semangat, dan impian. Jika kita malas, selalu ingat bahwa bukan tujuan yang harus pelajari, namun proses dalam mencapai tujuan tersebut. Dalam menghasilkan aset yang  berkelimpahan, kita perlu mengatasi malas ini dengan mengubah pola pikir dari awal. Jika pemikiran kita dari awal sudah salah, bagaimana kita bertindak dengan benar?

Youngvestors, yuk kita bersama-sama mengumpulkan dan menghasilkan harta kekayaan kita selagi masih muda. Sekarang adalah saat yang tepat untuk menjadikan kekayaan kita semakin bertumbuh. Tentunya seperti poin ketiga, yang diperlukan adalah mengubah pola pikir. Dengan pola pikir yang benar, rasa takut, rasa sensitif, dan rasa malas akan dapat diatasi meskipun tidak akan membuatnya hilang sepenuhnya. Semoga artikel kal ini bermanfaat, sampai jumpa di artikel berikutnya!

Salam I AM Community,

I AM Smart.

I AM Capable!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *