I AM Community

Maksimalkan Personal Branding Kamu di LinkedIn, Begini Caranya!

Maksimalkan Personal Branding Kamu di LinkedIn, Begini Caranya!
 

Youngvestor, apakah kalian masih ingat artikel tentang personal branding sebelumnya? Kali ini, Mintor akan membahas kembali mengenai hal ini. Mengapa demikian? Karena masih banyak orang berpikir jika personal branding hanya diperlukan untuk kebutuhan bisnis. Padahal, personal branding juga penting untuk kita semua, terutama bagi kamu yang sedang mencari pekerjaan. Hal tersebut juga sangat berpengaruh pada masa depan karier kamu, mengingat inilah yang identik dengan diri kamu di mata perusahaan atau para rekan bisnismu.

Tapi bagaimana perusahaan bisa melihat kamu dan merasa bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk perusahaan tersebut? Hal ini berhubungan dengan first impression ketika recruiter bertemu dengan calon pelamar. Namun, perlu digarisbawahi kembali bahwa first impression bukanlah personal branding. Namun, first impression bisa menentukan apakah mereka ingin mengenal Anda lebih dekat lagi atau lebih jauh lagi.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam membangun personal branding. Namun dalam artikel ini, Mintor akan membahas beberapa langkah utama yang sangat penting untuk kamu terapkan dalam menciptakan personal brand kamu.

1. Tentukan Value Diri Kamu

Sumber: Dokumentasi Pribadi Anita

Menurut Youngvestor, kita perlu membranding diri kita seperti apa? Apakah Youngvestor setuju bahwa setiap orang pasti mempunyai nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. Value tersebut bisa muncul dari bagaimana kita dididik oleh keluarga, bagaimana kita mendapatkan pelajaran dari guru di sekolah atau dengan siapa saja kita bergaul. Hal-hal itulah yang bisa memunculkan nila-nilai dalam hidup yang kemudian kita yakini dan akan kita bawa dalam kehidupan kita.

Value yang ditanamkan dalam keseharian kita, bisa membentuk personal brand dari diri kita. “Kalau value tersebut muncul dari dalam diri kita, itu bukanlah pencitraan. Pencitraan itu diciptakan untuk kebutuhan tertentu. Misalnya, seseorang diminta tampil dengan value yang tidak sesuai dengan dirinya,” jelas Anita Dwi Kurnia W, Head of Human Capital Development PT Intiland Development Tbk pada acara online training series, Sabtu (31/10).

Menurut Anita, ketika berbicara tentang personal branding berarti berhubungan dengan diri seseorang. “Ya inilah saya tapi saya seperti apa yang kita inginkan?”, tanyanya. Setiap dari peserta harus bisa menjawab hal ini. Ahmad Yani, salah satu peserta dari Webinar ini menjawab bahwa ada tiga value yang ia tanamkan dalam dirinya, antara lain friendship, independent, dan being the best. Dari ketiga value tersebut, Yani ingin dikenal sebagai seorang yang tidak pernah mengecewakan orang lain. “Saya ingin melakukan yang terbaik,” tegasnya.

2. Pilih Media yang Tepat

Sumber: sourcecon.com

Bagaimana membangun personal branding yang mudah? Jika berbicara tentang digital, maka media adalah jawabannya. Kamu bisa memilih LinkedIn sebagai media yang kamu gunakan untuk melakukan personal branding secara profesional.

Layaknya sebuah identitas, LinkedIn kerap dijadikan sebagai media untuk memperkenalkan diri atau bisnis ke calon partner maupun perusahaan dengan tujuan yang beragam. Untuk itu, kamu harus pahami lagi apa yang menjadi kebutuhanmu ya!

Jika tujuan kamu adalah mencari pekerjaan, pastikan akun LinkedIn kamu terlihat profesional pula. Youngvestor bisa mengoptimalisasi media sosial tersebut. Pastikan kamu telah meriset audiens kamu untuk mengetahui strategi yang terbaik dalam membangun personal branding! Dengan optimasi inilah kamu bisa memaksimalkan personal branding kamu.

3. Buat Konten yang Menunjukkan Personal Brand Kamu

Sumber: suneducationgroup.com

Setelah itu, kita harus memiliki konten terkait dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. “Jangan hanya membagikan konten yang sifatnya personal. Itu bisa dibagikan di media sosial lain dan bukan di media yang fokusnya untuk sebuah industri yang bisa melirik saya,” imbuh Anita. Kita bisa membagikan hal-hal yang menginspirasi atau sebuah karya yang pernah kita buat.

Konten ini sangat penting. Kalau tujuan dari media LinkedIn adalah supaya bisa dilirik oleh dunia industri, maka porsi untuk dunia industri tersebut harus lebih besar. Kita perlu mengupdate konten, resume maupun profile, termasuk foto di media sosial tersebut.  Kemudian kita bisa memasukkan sertifikasi job dan skill, experience dan kompetensi diri.

Tidak hanya itu saja, kita juga perlu berinteraksi dengan orang lain. Menurut Anita, kita harus cermat dalam hal ini. Misalnya seperti Edgar Bayu Refansyah, seorang freelancer yang juga alumni Sosiologi ini. Ia seringkali membagikan konten-konten terkait sosiologi yang dikemas dengan cara yang asik. Hal tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan personal brand dirinya.

4. Tingkatkan Skill dan Kompetensi Diri

Sumber: idntimes.com

Lebih lanjut, Anita menerangkan bahwa personal branding harus terus ditingkatkan. “Kalau kita sudah berada di posisi branding yang diinginkan, tanyakan terus, apa lagi yang perlu ditingkatkan dan apa yang kita inginkan dari orang lain supaya lebih mengenal kita lebih unik lagi,” jelasnya.

Pada saat kita masuk ke proses seleksi di sebuah perusahaan, biasanya perusahaan-perusahaan besar memakai cara yang sudah modern untuk melakukan interview dengan pelamar kerja. STAR model adalah sebuah metode yang digunakan untuk melihat kompetensi pelamar. Perusahaan tidak lagi hanya menilai dari IPK si pelamar saja. Namun lebih dari itu, perusahaan akan menilai potensi yang pelamar miliki.

Dalam hal ini, biasanya yang digali adalah situation. Jika kamu adalah freshgraduated, interviewer akan menanyakan pengalaman organisasi atau magang yang pernah diikuti. Kemudian task yakni posisi atau jabatan yang kita miliki saat itu.  Sedangkan action adalah hal-hal yang sudah pernah dilakukan pada saat menjabat di posisi tersebut. Pada saat menggali action, interviewer akan semakin melihat potensi yang ada dalam diri pelamar. Tidak hanya itu saja, interviewer akan menanyakan hasil dari kinerja kita. Apakah sudah sesuai dengan target yang ingin kita capai? Semua ini bisa kita gunakan untuk membranding diri di media sosial. Kita bisa mengomunikasikan setiap situasi, task dan action menjadi sebuah konten. Dengan ini kita bisa terus membangun dan memperkuat personal brand kita nih Youngvestor!

5. Tingkatkan Skill dan Kompetensi Diri

Sumber: kinectic.id

Tips terakhir yang bisa dilakukan adalah konsistensi. Personal branding bukanlah sesuatu yang hanya tampak di permukaan. Akan tetapi, kamu perlu menerapkannya dengan konsisten dalam kehidupan kamu.

Apakah sebuah branding bisa muncul dengan seketika? “Branding akan bisa terwujud atau terbentuk jika ada satu konsistensinya. Kalau konsistensi tersebut kita tunjukkan,” jelas Anita.

Ketika kamu secara konsisten mulai membangun branding apa yang melekat pada diri kamu. Misalnya dengan cara menceritakan kisah dan membagikan potongan kepribadian kamu dengan audiens di media sosial, khususnya di LinkedIn, kamu akan melihat lebih banyak orang yang aktif terlibat, mengikuti dan berbagi konten yang kamu buat. Misalnya seperti Edgar yang sudah mulai membangun personal brandingnya sebagai seorang influencer. Maka ia perlu melakukannya dengan konsisten agar hal tersebut bisa membuat dirinya lebih dikenal dan mudah ditemukan oleh orang yang ideal dengannya.

Setelah memahami penjelasan di atas, Mintor akan memberikan beberapa pertanyaan untuk merefleksikan ulang pemahamanmu mengenai cara membangun personal branding yang kuat, khususnya di LinkedIn.

  1. Apa tujuan personal branding kamu?
  2. Siapa target audiens kamu?
  3. Apa solusi yang bisa kamu tawarkan?
  4. Apa keunikan diri kamu?
  5. Apa pendapat mereka tentang kamu?

Sukses atau tidaknya personal brand tergantung pada seberapa jujur kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Jawaban kamu bisa menjadi catatan bagi diri kamu sendiri supaya dapat meningkatkan personal brand yang lebih kuat lagi.

Pesan Mintor, pegang teguh branding yang telah kamu buat dan lihat apa yang akan terjadi sampai dua atau tiga tahun ke depan. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh mahasiswi yang akrab disapa Olla. Ia mengatakan bahwa hal tersebut akan berpengaruh ketika dirinya mulai memasuki dunia pekerjaan atau menjadi seorang entrepreneur. Orang lain bisa mengetahui keahlian sekaligus personal brand yang ia bangun. Sehingga recruiter tidak akan meragukan lagi kemampuan dirinya dalam bidang tersebut.

Jadi, tunggu apa lagi nih Youngvestor? Yuk, mulai terapkan dan buat kesan baik yang menempel pada diri kamu! Artikel ini merupakan rangkuman dari acara Online Training Series yang diadakan oleh I AM Community yang mengangkat topik “Create Digital Branding on LinkedIn & Be A Great Jobseeker!” dan dibawakan oleh Anita Dwi Kurnia W., Head of Human Capital Development PT Intiland Development Tbk.

 

Penulis: Rini Oktaviani

Editor: Ristridiyana Budiyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *