I AM Community

Kenali 3 Tipe Investor, Kalau Kamu Tipe Apa?

Kenali 3 Tipe Investor, Kalau Kamu Tipe Apa?
 

Halo Youngvestor! Bagaimana kondisi keuanganmu hari ini? Seperti yang diketahui, investasi kini mulai diminati oleh banyak orang, karena bukan hanya mengajarkan kita untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan saja, investasi juga bisa memberikan return tinggi bahkan melebihi instrumen investasi lainnya.

Sebagai seorang investor, penting bagi kita untuk mengetahui strategi apa saja yang diperlukan sebelum melakukan investasi serta mengetahui potensi risiko dan perbedaan di antara masing-masing strategi. Jika dilihat berdasarkan Analisis Fundamental, maka ada tiga kategori strategi utama dalam berinvestasi yang bisa dipilih, yaitu Income Investing, Growth Investing, dan Value Investing.

Strategi berinvestasi juga menjadi penentu tipe investor yang seperti apa sih kamu? Untuk itu, yuk simak pembahasan masing-masing strategi berikut ini.

1. Value Investing

Value Investing adalah strategi berinvestasi dengan melihat saham dari fundamentalnya yang tercermin dari laporan tahunan (annual reports) dan laporan per kuartal (quarterly reports). Mindset Investor yang memilih strategi ini adalah “beli di bawah jual di atas” artinya mereka lebih menyukai berinvestasi dengan harga yang mereka yakini undervalued oleh pasar tetapi masih memiliki potensi kenaikan yang kuat. Bisa dikatakan pula mereka menyukai Investasi yang murah tetapi tidak murahan.

Keunggulan Value Investing

1. Tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang bermodal besar

Value investing tidak memerlukan modal yang cukup besar untuk memulai berinvestasi. Artinya siapapun bisa pakai teknik investing ini.

2. Dapat memaksimalkan the power of compounding

Compounding ini merupakan kemampuan investasi untuk bunga yang berlipat ganda atau bunga yang besar.

3. Sudah teruji oleh waktu

Warren Buffet merupakan salah satu tokoh yang menggunakan strategi Value Investing selama puluhan tahun. Beliau merupakan salah satu orang terkaya di dunia yang berhasil dengan menggunakan metode investasi ini.

Value investing cenderung memiliki risiko lebih rendah. Oleh karena itu, strategi ini lebih banyak diminati oleh investor pemula agar dapat terhindar dari fluktuasi pasar yang terjadi dalam jangka pendek. Untuk memaksimalkan value yang bisa didapat, value investing sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang.

Kelemahan Value Investing

1. Mengharuskan seseorang untuk memiliki mindset investor

Value investing tidak cocok diterapkan bagi para trader. Fluktuasi pasar dalam timeframe yang lebih kecil, membuat seseorang cenderung mengambil keputusan secara emosional ketimbang rasional.

2. Membutuhkan tingkat kesabaran yang kuat

Dalam strategi ini hasil dari value investing terkadang baru bisa dilihat dalam jangka waktu yang cukup lama.

3. Memiliki keterbatasan dalam mengukur intrinsic value

Intrinsic value adalah nilai sebenarnya atau nilai wajar yang terkandung dari sebuah saham, properti atau jenis Investasi lain yang kita beli.

4. Keterbatasan dalam penilaian sejarah (historical valuation)

Laporan keuangan merupakan salah satu alat yang digunakan pada Value Investing. Penyusunan laporan keuangan dilakukan berdasarkan kinerja sejarah atau historical valuation. Kinerja masa depan tidak selalu dijamin oleh kinerja masa lalu. Ada hal-hal yang hanya bisa diukur oleh estimasi dari manajemen.

 

2. Growth Investing

Growth Investing adalah strategi berinvestasi saham yang pertumbuhan dari emiten atau perusahaan menjadi fokus utamanya. Berbeda dengan Value Investing, Growth Investing lebih fokus berinvestasi di perusahaan dengan potensi pertumbuhan yang tinggi, tidak peduli harga saham tersebut rendah atau tinggi. Slogan yang berbunyi, “buy high, sell higher” amat populer di kalangan investor yang menerapkan strategi growth investing. Biasanya strategi ini dilakukan oleh investor yang memilih berinvestasi di bidang properti dan juga saham.

Keunggulan Growth Investing

1. Mendapatkan profit yang lebih besar

Investor bisa mendapatkan profit ketika harga saham terus naik secara teknikal dan mampu secara fundamental terus membukukan pertumbuhan laba yang positif dalam jangka waktu yang cepat.

2. Angka kerugian yang minim

Meskipun mengalami penurunan di beberapa waktu tertentu, investor tetap akan mendapatkan keuntungan, karena harga jual yang turun tidak akan lebih rendah dari harga awal pembelian.

3. Sudah teruji oleh waktu

Pendiri perusahaan Apple dan Indomaret adalah beberapa tokoh yang berhasil dalam menggunakan strategi Growth Investing.

Kelemahan Growth Investing

1. Earnings Per Share (EPS) sangat rawan terhadap manipulasi

Earnings Per Share (EPS) adalah jumlah pendapatan yang didapatkan oleh setiap lembar saham perusahaan. EPS dapat bergerak naik atau turun tergantung pada jumlah saham beredar. EPS dapat dimanipulasi dengan penjualan aset atau dengan mengurangi jumlah saham beredar.

 

3. Income Investing

Income Investing adalah strategi investasi yang fokus pada pencarian income stock. Investor yang memilih gaya income investing memperoleh keuntungannya dengan cara rutin membagikan pembagian keuntungan berupa dividen. Strategi ini bertujuan untuk mendapatkan pendapatan rutin, sekaligus berusaha meminimalkan risiko dari investasi.

Keunggulan Income Investing

1. Memperoleh passive income secara rutin

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, investor dapat memperoleh pendapatan tetap melalui pembagian dividen perusahaan.

2. Tidak memerlukan analisa berkala

Dengan metode income investing, investor akan lebih leluasa untuk melakukan investasi dengan menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau melakukan pembelian saham secara rutin setiap bulan. Sebab, strategi itu tidak harus menunggu momen dan analisa yang tepat untuk melakukan pembelian saham.

3. Siapapun bisa melakukannya

Income investing dapat diterapkan oleh siapa saja, mulai dari pelajar hingga karyawan yang ingin menyiapkan dana pensiun. Youngvestor dapat mendaftarkan diri ke sekuritas sesuai dengan pilihan masing-masing.

Kekurangan Income Investing

1. Dana yang dibutuhkan tidak sedikit

2. Memerlukan ekstra kesabaran. Sebab, investor harus membeli saham secara rutin dalam jangka waktu yang lama.

3. Tidak semua perusahaan membagikan dividen

Strategi investasi di atas merupakan strategi andalan yang bisa kamu lakukan dalam berinvestasi. Kamu dapat mengikuti strategi tersebut agar dapat memaksimalkan profit dan return yang tinggi. Dengan begitu, kamu dapat lebih cermat dalam berinvestasi. Nah, Dari beberapa tipe investor yang dibedakan dari caranya dalam berinvestasi di atas, tipe investor yang kayak gimana nih yang cocok buat kamu? Semoga artikel ini bermanfaat untukmu dan orang sekitarmu ya, jangan ragu untuk bagikan ilmu ini ke teman-temanmu! Sampai jumpa di artikel berikutnya, Youngvestor!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *